WHO akan pasok obat HIV ke Ukraina untuk setahun
Rabu, 6 April 2022 10:35 WIB
Arsip - Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlihat di pintu masuk gedung WHO di Jenewa, Swiss, 20 Desember 2021. (ANTARA/Reuters/Denis Balibouse/as)
Bengaluru (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (5/4) akan memasok ribuan dosis obat antiretroviral untuk memenuhi kebutuhan pasien HIV di Ukraina selama 12 bulan ke depan.
WHO, bersama dengan Rencana Darurat Presiden Amerika Serikat untuk Bantuan AIDS (PEPFAR) serta pihak berwenang Ukraina dan mitra lainnya, telah membeli 209.000 paket obat antiretroviral generik TLD.
Ukraina memiliki sekitar 260.000 orang yang hidup dengan HIV, terbanyak kedua di Eropa setelah Rusia.
Sebelum invasi Moskow ke Ukraina, sekitar setengah dari pengidap HIV di Ukraina menggunakan pengobatan antiretroviral.
Pada Maret, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk HIV/AIDS memperingatkan bahwa Ukraina hanya memiliki persediaan obat untuk pasien HIV kurang dari sebulan.
"Perang ini berpotensi merusak kemajuan yang diperoleh dengan susah payah dalam beberapa tahun terakhir pada sejumlah masalah kesehatan, termasuk kasus HIV. Kami tidak bisa membiarkan itu terjadi ketika Ukraina mulai dapat mengatasi masalah HIV," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Henri P. Kluge.
Meskipun belum ada obat khusus untuk HIV, obat antiretroviral dapat mengendalikan virus tersebut dan mencegah penularan virus itu melalui hubungan seksual dengan orang lain.
Namun, setiap gangguan dalam kesinambungan pengobatan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk resistensi virus terhadap obat.
Pengiriman gelombang pertama obat HIV telah melintasi perbatasan Polandia ke Ukraina dan akan diangkut ke fasilitas layanan HIV di seluruh negara itu, kata WHO.
Sumber: Reuters
WHO, bersama dengan Rencana Darurat Presiden Amerika Serikat untuk Bantuan AIDS (PEPFAR) serta pihak berwenang Ukraina dan mitra lainnya, telah membeli 209.000 paket obat antiretroviral generik TLD.
Ukraina memiliki sekitar 260.000 orang yang hidup dengan HIV, terbanyak kedua di Eropa setelah Rusia.
Sebelum invasi Moskow ke Ukraina, sekitar setengah dari pengidap HIV di Ukraina menggunakan pengobatan antiretroviral.
Pada Maret, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk HIV/AIDS memperingatkan bahwa Ukraina hanya memiliki persediaan obat untuk pasien HIV kurang dari sebulan.
"Perang ini berpotensi merusak kemajuan yang diperoleh dengan susah payah dalam beberapa tahun terakhir pada sejumlah masalah kesehatan, termasuk kasus HIV. Kami tidak bisa membiarkan itu terjadi ketika Ukraina mulai dapat mengatasi masalah HIV," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Henri P. Kluge.
Meskipun belum ada obat khusus untuk HIV, obat antiretroviral dapat mengendalikan virus tersebut dan mencegah penularan virus itu melalui hubungan seksual dengan orang lain.
Namun, setiap gangguan dalam kesinambungan pengobatan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk resistensi virus terhadap obat.
Pengiriman gelombang pertama obat HIV telah melintasi perbatasan Polandia ke Ukraina dan akan diangkut ke fasilitas layanan HIV di seluruh negara itu, kata WHO.
Sumber: Reuters
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PBNU dan Muhammadiyah tegaskan pelapor Komika Pandji Pragiwaksono bukan bagian organisasi
09 January 2026 13:51 WIB
Pemkot Pariaman dukung organisasi semarakkan daerah dengan kegiatan keagamaan
23 November 2025 19:22 WIB
Ajak organisasi keagamaan sertifikasi lembaga pendidikan, Menteri Nusron: Sebagai "early warning system"
24 October 2025 18:00 WIB
Lantik 804 pejabat, Menteri Nusron: Pelantikan berkala cerminkan organisasi yang sehat
09 October 2025 14:26 WIB
Wako Fadly Amran jamu rombongan organisasi kepemudaan asal Malaysia MBFRA
24 September 2025 18:11 WIB
Sukses Kongres PWI 2025 tak terlepas dari tekad peserta jaga marwah organisasi
01 September 2025 22:38 WIB