Padang (ANTARA) - Kementerian Agama wilayah Sumatera Barat menyebut orang Minang amat toleran dalam hidup berbangsa dan bernegara dan membantah adanya pandangan yang menilai  warga Minang tidak toleran. 

“Kita punya bukti bahwa orang Minang itu toleran, Jika ada yang mengatakan masyarakat Sumatra Barat tidak toleran itu kurang tepat,"  kata  Kabag TU Kemenag Sumbar  Irwan di Padang, Selasa pada Program Dialog Sumbar dengan tema Perkokoh Toleransi Beragama di tetngah Omicron. 

Menurut dia alasan pertama orang Minang amat toleran adalah hampir di seluruh penjuru dunia ada orang Minang, bahkan di pulau terkecil pun ada orang Minang dan ada rumah makan Padang. 

"Di mana pun berada mereka diterima dan mendapat tempat, jika masyarakat Minang tidak toleran  akan sulit diterima dan sulit mendapatkan tempat,” ujarnya.

Kemudian, di Sumatera Barat, nama tempat dan nama daerah berasal dari nama suku daerah luar.

“Kita ada daerah namanya Kampung Jawa, Kampuang Kaliang, Kampung Cina,  ini membuktikan orang Minang itu  toleran buktinya orang dari luar Sumbar pun mendapat tempat di sini,” ujarnya.

Selanjutnya  dari segi kehidupan beragama tidak ada agama lain yang  tidak mendapat tempat  di Sumatera Barat termasuk orang yang  berbeda ras.

Bahkan tidak didengar ada bentrokan fisik, perundungan  dan lain sebagainya. Sesuai falsafah Minang, adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, ujarnya. 

Ia menyampaikan  masyarakat Minang terbiasa bertoleransi dan menerima perbedaan  dan sifat Ini harus  dirawat terus, untuk memastikan keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk mendukungnya  lanjut dia  Kementerian Agama juga sudah melakukan penguatan moderasi beragama menuju tahun toleransi 2022. Sumatera Barat menjadi salah satu proyek percontohan dan keteladanan  hidup bertoleransi yang baik untuk Indonesia. 

“Pada 2021  Kementerian Agama Sumatera Barat telah melakukan  diskusi kelompok terpumpun bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi keagamaan dan organisasi kemasyarakatan terkait tahun toleransi ini. 

Sejalan dengan itu Anggota  Komisi V DPRD Sumbar Mochlasin  menyampaikan  masyarakat Minang bersifat terbuka. 

Anggota dewan yang berasal dari Jawa Timur ini juga bangga  dan mengapresiasi kehidupan masyarakat di Sumatera Barat. 

Ia menilai ciri khas warga Minang adalah  pandai berkawan  dan pandai bersahabat sehingga tidak ada sikap yang memilah-milah sehingga bisa  sukses di perantauan.

Di sisi lain ia menilai  masyarakat Minang terbuka dalam menilai sesuatu, standarnya objektif dan mengacu kepada  nilai kejujuran, sportivitas, kapasitas, integritas dan sebagainya.