Aplikasi Bersatu Lawan COVID-19 pertajam data penanganan pandemi
Selasa, 26 Mei 2020 15:33 WIB
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam tangkapan layar akun Youtube BNPB Indonesia saat menayangkan jumpa pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (26/5/2020). (ANTARA/Dewanto Samodro)
Jakarta (ANTARA) - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengajak masyarakat untuk mengunduh dan memasang aplikasi "Bersatu Lawan COVID" untuk mempertajam data penanganan COVID-19 di Indonesia.
"Semakin banyak yang download dan berpartisipasi melalui aplikasi 'Bersatu Lawan COVID', maka analisis data penanganan COVID-19 akan semakin tajam," kata Wiku dalam jumpa pers secara daring yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dipantau dari Jakarta, Selasa.
Wiku mengatakan aplikasi "Bersatu Lawan COVID" merupakan sistem data terpadu yang terhubung di seluruh Indonesia. Partisipasi aktif masyarakat akan mempermudah analisis data untuk menggambarkan peta risiko masing-masing wilayah.
Peta risiko tersebut juga akan mempermudah bagi para pelaku perjalanan yang karena tugas dan pekerjaannya tetap harus melakukan perjalanan.
"Bagi pelaku perjalanan yang memerlukan surat izin keluar masuk Jakarta, juga akan semakin mudah mendapatkan dan mempermudah pengecekan petugas di lapangan," tuturnya.
Berdasarkan analisis data terhadap perkembangan kasus dan penanganan COVID-19, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 telah membuat peta risiko berdasarkan kewilayahan.
Wilayah yang memiliki risiko tinggi akan digambarkan dengan warna merah, sedangkan warna hijau untuk risiko ringan dan warna biru untuk wilayah yang tidak ada kasus COVID-19.
"Peta risiko ini berbasis data, bukan permodelan. Perlu peran aktif masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan untuk menghijaukan atau membirukan wilayahnya dalam peta risiko," jelasnya.
"Semakin banyak yang download dan berpartisipasi melalui aplikasi 'Bersatu Lawan COVID', maka analisis data penanganan COVID-19 akan semakin tajam," kata Wiku dalam jumpa pers secara daring yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dipantau dari Jakarta, Selasa.
Wiku mengatakan aplikasi "Bersatu Lawan COVID" merupakan sistem data terpadu yang terhubung di seluruh Indonesia. Partisipasi aktif masyarakat akan mempermudah analisis data untuk menggambarkan peta risiko masing-masing wilayah.
Peta risiko tersebut juga akan mempermudah bagi para pelaku perjalanan yang karena tugas dan pekerjaannya tetap harus melakukan perjalanan.
"Bagi pelaku perjalanan yang memerlukan surat izin keluar masuk Jakarta, juga akan semakin mudah mendapatkan dan mempermudah pengecekan petugas di lapangan," tuturnya.
Berdasarkan analisis data terhadap perkembangan kasus dan penanganan COVID-19, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 telah membuat peta risiko berdasarkan kewilayahan.
Wilayah yang memiliki risiko tinggi akan digambarkan dengan warna merah, sedangkan warna hijau untuk risiko ringan dan warna biru untuk wilayah yang tidak ada kasus COVID-19.
"Peta risiko ini berbasis data, bukan permodelan. Perlu peran aktif masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan untuk menghijaukan atau membirukan wilayahnya dalam peta risiko," jelasnya.
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor : Miko Elfisha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Harga emas Antam meroket Rp40.000 ke angka Rp2,703 juta/gr, Senin (19/01/2026)
19 January 2026 9:42 WIB
Harga dua jenama emas di Pegadaian kompak stabil, hari ini Senin (19/01/2026)
19 January 2026 9:04 WIB
Jadwal dan lokasi layanan SIM Keliling Kota Padang, hari ini Senin (19/01/2026)
19 January 2026 4:20 WIB