Padang, (ANTARA) - Ketika munculnya wabah Corona Virus Diseases 2019 (COVID- 19) ini, ada komentar dan pertanyaan di masyarakat “Mengapa wabah virus ini harus begitu ditakuti?”. 

Di antara mereka ada yang menyampaikan pada penulis, “Bukankah zaman dahulu juga ada wabah seperti kolera, cacar, campak, malaria, yang toh pada akhirnya semua penyakit itu dapat di kendalikan.”

Mereka juga mengungkapkan bahwa penyakit-penyakit tersebut dulunya menjadi wabah dan menelan banyak korban jiwa. Pada akhirnya, di antara penyakit-penyakit tersebut juga masih ada, tetapi kita tidak lagi menjadikannya sesuatu bahaya yang mengancam dan sangat menakutkan. 

Bukankah kita saat ini berkontak dengan berbagai virus, bakteri, dan parasit penyebab penyakit-penyakit tersebut. Akan tetapi, saat ini tidak semudah itu kita sakit bila terpapar. Lalu, “Bisakah kita menghadapi dan menyikapi Covid-19 ini sebagaimana penyakit-penyakit tersebut?.”

Benarkah kita bisa menghadapi COVID-19 ini dengan pendekatan tersebut? Apa risiko yang akan dihadapi jika ini jalan yang ditempuh?

Perdebatan Kekebalan Populasi
 
Pandangan  masyarakat yang demikian tidak asing. Bahkan pada awalnya Perdana Mentri Inggris secara resmi juga ingin melakukan pendekatan dalam menghadapi wabah COVID-19 dengan dasar pandangan yang tidak jauh berbeda. 

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menyatakan bahwa pendekatan yang disebut dengan “Let it go approach”, yang membiarkan hampir 60 persen hingga 70 persen  penduduk terpapar atau terinfeksi dengan virus ini. Meskipun pernyataan tersebut akhirnya diralat dan melakukan pendekatan yang sedikit berbeda dari rencananya semula.

 Upaya yang dilakukan hanyalah mengupayakan para lansia dan orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh untuk diisolasi. Pendekatan ini disampaikan PM Inggris atas masukan dari Patrick Vallance, the Kepala Penasehat Pemerintahan Inggris Bidang Sains. 

Pendekatan ini dilakukan atas dasar pemikiran bahwa bila ada setidaknya 70 persen  penduduk yang terinfeksi yang pada akhirnya sembuh, maka akan terbentuk kekebalan populasi atau yang disebut dengan “Herd Immunity.” 

 Maka bila pada suatu populasi sudah ada 70 persen  yang kebal terhadap COVID-19 ini, maka akan dapat mencegah penularan lebih jauh kepada individu lainnya.  

Pandangan yang hampir sama juga dilontarkan oleh PM Belanda Mark Rutte. Meskipun perlunya menekankan ‘social distancing, dan mendorong untuk bekerja dari rumah, dan mendorong untuk menjauhi keramaian, pub, restoran dan transportasi umum. 

Menurutnya corona virus sudah menyebar adalah situasi yang sangat sulit untuk melakukan berbagai tindakan yang tanpa risiko. Ia menginginkan masyarakat imun atau kebal terhadap COVID-19 ini sebagaimana kebalnya terhadap campak. Kekebalan masyarakat akan menjadi dinding pelindung terhadap penyebaran COVID-19 ini. 

Berdasarkan pendekatan tersebut, kedua negara ini melakukan penanganan COVID-19 yang berbeda dengan Italia, Perancis, atau Kota Wuhan yang melakukan ‘Lockdown’ dan penutupan semua tempat wisata dan kantor publik. Hal ini terlihat hingga 14 Maret 2020 masih banyaknya wisatawan di pusat Kota London. Bahkan acara maraton di Kota Bath tetap diadakan tanggal 15 Maret 2020 yang dihadiri oleh lebih 6 ribu pelari. Padahal hingga saat itu sudah tercatat 1.144 kasus dan 21 orang meninggal dunia.   


Teori terbentuknya kekebalan populasi atau ‘Herd immunity’ secara alamiah mendapat tantangan dari para pakar lainnya. Beberapa ahli epidemilogi, peneliti dan akademisi telah menuliskan pandangan ilmiahnya terhadap masalah dan kekeliruan dari pendekatan tersebut, seperti Dr. David J. Hunter, dalam New England Journal of Medicine, tanggal 20 maret 2020, dan Dr. William Hanage, Profesor Epidemiologi dan Penyakit Infeksi dari Harvard Medical School dan Harvard School of Public health.

Membiarkan terbentuknya kekebalan pada masyarakat dengan membiarkan banyak yang terpapar Covid-19 diibaratkan dengan ‘genocida’ secara tidak langsung dan bahkan sebagai tindakan yang lepas dari tanggung jawab.

Kekebalan yang ada di masyarakat saat ini adalah lebih banyak karena vaksinasi. Vaksinasi yang dilakukan adalah dengan virus yang sudah dilemahkan sehingga dalam tubuh seorang anak atau seseorang yang diimunisasi tidak jatuh sakit namun dapat membentuk pertahanan tubuh atau antibodi untuk melawannya. Cakupan imunisasi yang sudah besar menjadikan masyarakat saat ini telah tahan atau imun terhadap penyakit-penyakit lama tersebut.

Terbentuknya ‘Herd imunity’ secara alamiah sangat diperdebatkan. Sejarah mencatat sebelum adanya imunisasi, kematian yang besar selalu terjadi berulang terhadap berbagai penyakit tersebut. Pada penyakit campak misalnya, pada abad ke-18 setiap tahunnya dicatat kematian 400 ribu di seluruh Eropa, dan tahun 1849 hampir 13 persen  penduduk Calcutta India meninggal karena penyakit ini. Begitu juga dengan penyakit-penyakit lainnya.

“Survival for the Fittest” dan Risiko 

Membiarkan banyak orang terinfeksi COVID-19 demi mendapatkan ‘Herd immunity’ adalah tindakan membiarkan banyak korban. Virus secara alamiah sangat berbeda dengan yang digunakan pada vaksinasi.

SARS-CoV2 sebagai penyebab COVID-19 adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit yang berat, terutama pada orang yang saat itu daya tahan tubuhnya sedang rendah atau ada penyakit penyerta lainnya. Hanya orang-orang yang daya tahan tubuh kuat dan disertai dengan penangan yang baiklah dapat sembuh dan kemudian mendapatkan kekebalan.

Membiarkan banyak orang terpapar bagaikan menerapkan perinsip teori evolusi Darwin dalam seleksi alam “Survival for the Fittest.” Hanya yang kuatlah yang akan bertahan, yang lemah akan meninggal. Pendekatan ini tentu akan banyak memakan korban. Apalagi, tidak ada yang tahu seberapa banyak korban yang akan jatuh, berapa lama “Herd immunity” akan terbentuk, dan kapan wabah berakhir.    

Saat ini, setelah tiga bulan berselang COVID-19 terus mengalami peningkatan. Secara global, belum ada terlihat tanda-tanda penurunan kasus yang berarti. Pada beberapa negara peningkatan kaus harian justru terjadi signifikan.

Hingga tanggal 20 Maret 2020, laporan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sudah terjadi 234 ribu lebih kasus. Angka kematian mencapai 4,1% dengan 9.840 orang meninggal dunia. 

Italia hingga 20 Maret mencatat 41 ribu lebih dan 3.407 diantaranya meninggal dunia, atau dengan angka kematian 8,3 persen . Negara-negara Eropa lainnya juga mengalami peningkatan kasus yang cukup tajam, seperti Spanyol (17 ribuan kasus), Jerman dan Perancis masing-masingnya 10 ribu lebih. Negara-negara Eropa lainnya juga mencatat kasus yang mengkhawatirkan.

Kasus di Indonesia juga terus mengalami peningkatan, hingga 21 Maret 2010 sudah dilaporkan 450 kasus, dan 38 diantaranya meninggal dunia atau dengan angka kematian 8,4 persen . Sedangkan angka kesembuhannya hanya 4,4 persen  atau 20 orang dari kasus yang ada. 

Menganggap wabah ini sepele dan berharap kita akan baik-baik saja tanpa ada usaha adalah tindakan yang gegabah. Jika jauh lebih banyak yang fatal dari yang sembuh, bukannya kekebalan populasi yang kita dapatkan tetapi bencana besar kematian. Oleh karena itu kita perlu melakukan tindakan kewaspadaan dan pencegahan tanpa kepanikan

Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Unand, & SEAOHUN Fellow in Zoonotic Diseases and One-Health Policy
 

Pewarta : dr Hardisman, MHID, PhD
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2024