Arab Saudi yakin China dapat basmi virus corona
Senin, 27 Januari 2020 7:41 WIB
Ilustrasi - Jamaah Haji. Departemen Kesehatan Arab Saudi mengumumkan tidak ada kasus virus Corona, maupun kecurigaan virus Ebola di antara para jamaah haji. (Unggul Tri Ratomo)
Dubai, (ANTARA) - Pemerintah Arab Saudi sedang memantau perkembangan pasar minyak dunia yang tertekan akibat wabah virus corona jenis baru yang mempengaruhi ekonomi China maupun dunia, ujar menteri energi Arab Saudi.
Pangeran Abdulaziz bin Salman percaya bahwa pemerintah China dan komunitas internasional dapat menanggulangi penyebaran virus corona dan memberantas sepenuhnya virus itu.
Pasar minyak dunia yang saat ini tertekan didorong oleh faktor psikologis dan kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona.
Baca juga: Ombudsman minta pemerintah keluarkan larangan masuk wisatawan China
Dia percaya bahwa Arab Saudi dan negara-negara anggota OPEC lainnya memiliki kemampuan dan fleksibilitas untuk menanggapi setiap perkembangan untuk menjaga stabilitas pasar minyak dunia.
Lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia tertular virus korona baru, yang sebagian besar di antaranya di China, dan sebanyak 56 orang di China meninggal karena wabah tersebut, seperti dilansir Reuters.
Pada Minggu, China memastikan bahwa hingga 25 Januari ada 1.975 kasus pasien yang tertular virus corona baru sementara jumlah korban meninggal telah mencapai 56 orang, demikian dilaporkan stasiun penyiaran negara CCTV.
Sementara itu pada Sabtu, Hong Kong menyatakan darurat virus, membatalkan berbagai perayaan serta melarang perjalanan ke China daratan.
Baca juga: Data WHO sudah 2.014 orang terjangkit virus corona dan 56 meninggal dunia
Di Hong Kong, ada lima kasus orang mengidap virus tersebut. Pemimpin kota, Carrie Lam, mengatakan penerbangan dan perjalanan kereta cepat antara Hong Kong dan Wuhan akan dihentikan. Sekolah-sekolah di Hong Kong, yang saat ini sedang diliburkan dalam rangka Tahun Baru Imlek, akan tetap ditutup sampai 17 Februari.
Presiden Xi Jinping mengatakan dalam sidang politbiro, Sabtu (25/1), bahwa China sedang menghadapi "situasi berbahaya" sementara badan-badan kesehatan di seluruh dunia bergelut mencegah wabah itu.
Virus itu diyakini muncul akhir tahun lalu di sebuah pasar ikan di pusat Kota Wuhan, China, dan berasal dari hewan-hewan yang dijual secara ilegal.
Virus sudah menyebar ke kota-kota di China seperti Beijing dan Shanghai, juga ke negara-negara lain termasuk Amerika Serikat, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Australia, Prancis dan Kanada.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini tidak menyebutkan wabah itu sebagai darurat kesehatan global, namun beberapa pakar kesehatan mempertanyakan apakah China bisa terus menahan penyebaran virus menular itu. (*)
Baca juga: Berwisata selama lima hari, 150 turis asal Kunming Cina tiba di Bandara Minangkabau
Pangeran Abdulaziz bin Salman percaya bahwa pemerintah China dan komunitas internasional dapat menanggulangi penyebaran virus corona dan memberantas sepenuhnya virus itu.
Pasar minyak dunia yang saat ini tertekan didorong oleh faktor psikologis dan kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona.
Baca juga: Ombudsman minta pemerintah keluarkan larangan masuk wisatawan China
Dia percaya bahwa Arab Saudi dan negara-negara anggota OPEC lainnya memiliki kemampuan dan fleksibilitas untuk menanggapi setiap perkembangan untuk menjaga stabilitas pasar minyak dunia.
Lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia tertular virus korona baru, yang sebagian besar di antaranya di China, dan sebanyak 56 orang di China meninggal karena wabah tersebut, seperti dilansir Reuters.
Pada Minggu, China memastikan bahwa hingga 25 Januari ada 1.975 kasus pasien yang tertular virus corona baru sementara jumlah korban meninggal telah mencapai 56 orang, demikian dilaporkan stasiun penyiaran negara CCTV.
Sementara itu pada Sabtu, Hong Kong menyatakan darurat virus, membatalkan berbagai perayaan serta melarang perjalanan ke China daratan.
Baca juga: Data WHO sudah 2.014 orang terjangkit virus corona dan 56 meninggal dunia
Di Hong Kong, ada lima kasus orang mengidap virus tersebut. Pemimpin kota, Carrie Lam, mengatakan penerbangan dan perjalanan kereta cepat antara Hong Kong dan Wuhan akan dihentikan. Sekolah-sekolah di Hong Kong, yang saat ini sedang diliburkan dalam rangka Tahun Baru Imlek, akan tetap ditutup sampai 17 Februari.
Presiden Xi Jinping mengatakan dalam sidang politbiro, Sabtu (25/1), bahwa China sedang menghadapi "situasi berbahaya" sementara badan-badan kesehatan di seluruh dunia bergelut mencegah wabah itu.
Virus itu diyakini muncul akhir tahun lalu di sebuah pasar ikan di pusat Kota Wuhan, China, dan berasal dari hewan-hewan yang dijual secara ilegal.
Virus sudah menyebar ke kota-kota di China seperti Beijing dan Shanghai, juga ke negara-negara lain termasuk Amerika Serikat, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Australia, Prancis dan Kanada.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini tidak menyebutkan wabah itu sebagai darurat kesehatan global, namun beberapa pakar kesehatan mempertanyakan apakah China bisa terus menahan penyebaran virus menular itu. (*)
Baca juga: Berwisata selama lima hari, 150 turis asal Kunming Cina tiba di Bandara Minangkabau
Pewarta : Azis Kurmala
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Saudi sebut keputusan OPEC+ kurangi produksi minyak untuk meningkatkan stabilitas pasar
08 September 2022 8:37 WIB, 2022
Dinyatakan pulih, Raja Salman tinggalkan rumah sakit usai operasi kantong empedu
31 July 2020 6:24 WIB, 2020
Harga minyak dunia naik setelah menteri baru Saudi berkomitmen kurangi produksi
10 September 2019 7:19 WIB, 2019
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud sampaikan duka cita atas gempa di Lombok
11 August 2018 12:20 WIB, 2018
Raja Arab Saudi Tegaskan Dukungan Buat Palestina Dalam Masalah Jerusalem
21 December 2017 9:33 WIB, 2017