Bukittinggi, (Antara) - Terminal tipe A Simpang Aur Kuning Kota Bukittinggi tak lagi berfungsi layaknya sebuah terminal, lantaran banyak pedagang kaki lima (PKL) berjualan di sana, disertai parkir sepeda motor dan mobil plat hitam. Pengamatan ANTARA pada Senin, terminal kebanggaan Bukittinggi memiliki luas dua hektare sepintas terlihat tidak ubahnya seperti pasar atau lokasi parkir. Petugas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika yang berada di terminal terkesan tidak berdaya untuk menertibkan para PKL, parkir roda dua dan empat, akibatnya terminal terkesan tidak lagi sebagai tempat menaik dan menurunkan penumpang. Sebelumnya Pemkot Bukittinggi dalam mendukung terminal agar berfungsi secara maksimal telah membangun loket dan tower, yang dikerjakan pada 2007. Bangunan selesai dikerjakan akhir Desember 2009. Dana dihabiskan senilai Rp2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan jumlah keseluruhan loket sebanyak 68 unit, sesuai dengan jumlah perusahaan angkutan, terkesan hanya menghabiskan uang semata. Pasalnya, areal sekeliling loket dan ruang tunggu dipenuhi pedagang. Bahkan, loket seharusnya sebagai tempat pelayanan karcis penumpang ternyata dipenuhi titipan baran-barang dagangan sejumlah PKL. Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (F-SPSI) unit terminal Simpang Aur Kuning Asril Erich menilai, Dinas Perhubungan terkesan tak perduli dengan kondisi terminal yang semrawut seperti sekarang. Seharusnya, kata dia, Dinas Perhubungan yang dalam hal itu Kepala UPTD Terminal mejalin kerja sama dengan wadah organisasi resmi dalam terminal, misalnya F-SPSI serta lainnya agar terminal tidak semrawut. "Dinas Perhubungan agar menertibkan areal loket dan ruang tunggu yang dijadikan sebagai tempat berjualan itu serta ada apa dengan pihak agen dan kepala terminal membiarkan loket dijadikan sebagai tempat menyimpan barang dagangan sejumlah pedagang," ujarnya mempertanyakan. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Bukittinggi, Idris menyebutkan, pihaknya berencana menertibkan seluruh kawasan terminal agar fungsi terminal kembali berjalan maksimal. Menurut dia, penertiban tersebut berupa membongkar kembali pembatas jalan yang dibuat di dalam terminal, yang sebelumnya dijadikan sebagai jalur angkutan, serta pedagang yang berjulan di areal terminal. Selain itu, menurut dia, pihaknya juga akan membenahi saluran air yang berada di dalam terminal karena telah tersumbat. "Saat ini sudah ada dana Rp100 juta untuk perbaikan saluran itu," kata dia. Dia menyampaikan, untuk pembongkaran pembatas jalan yang dibuat di dalam terminal tersebut telah direncanakan rapat bersama unsur terkait untuk penghapusan aset berupa batu pembatas itu. "Kondisi terminal sekarang memang terkesan sudah tidak layak sehingga perlu dibenahi," katanya sambil menyebutkan, pedagang berjualan di areal terminal tersebut merupakan pedagang di Pasar Aur Kuning. (*/sun)

Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026