Jakarta, (ANTARA) - PT Len Industri Persero berencana melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pabrik panel surya (solar cell) pada Desember 2012, pabrik ini dibangun bersama PT Pertamina Persero dengan kapasitas 60 megawatt. "Ini proyek penugasan sekaligus investasi agar kita punya industri 'renewable energy' di Indonesia," urai Direktur Utama PT Len Industri Abraham Mose kepada ANTARA di Jakarta, Senin. Ia menuturkan, pabrik tenaga surya ini dibangun di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Pabrik ini menggunakan teknologi "photovoltaic" sebagai energi masa depan. Untuk diketahui, "solar photovoltaic" merupakan solusi yang tepat meningkatkan elektrifikasi nasional, terutama menjangkau pulau-pulau di Indonesia yang tidak terhubung dengan jaringan listrik dan kondisi alam yang menyulitkan pengiriman bahan bakar genset. Sebelumnya, pemerintah melalui mengeluarkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 yang mencanangkan pemakaian tenaga surya sebesar 0,2-0,3 persen dalam bauran energi nasional pada 2025 atau setara 1.000 MWp. Artinya, perlu penambahan 65 MWp energi surya per tahun. Selain membangun panel surya ini, perseroan berencana berinvestasi dalam bidang kebandaraudaraan, khususnya sistem navigasi bandara. "Kita akan membuat proposal untuk masuk ke proyek bandara karena sesuai dengan keahlian perseroan, yakni navigasi. Ini yang akan kita lakukan dalam lima tahun mendatang," ungkapnya. Dalam waktu dekat ini, perseroan akan memperkenalkan produk berbasis interlocking, yaitu pada 28 November 2012 mendatang. Produk ini hasil kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Ia menggarisbawahi, proyek-proyek yang diperoleh sepenuhnya didukung oleh kompetensi yang dimiliki perusahaan dalam bidang persinyalan kereta api, komunikasi navigasi laut, "power energy" (renewable energy), pertahanan (alat komunikasi militer), sistem navigasi serta sistem kendali. "Intinya, kita selalu mengikuti perubahan dan melihat kondisi pertumbuhan teknologi di luar," kata Abraham. Untuk itu, perseroan membentuk divisi yang bertujuan melakukan pemetaan terhadap perubahan industri, yakni "strategic corporate division". (*/sun)

Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026