Bulog Solok baru serap 25 ton beras premium
Rabu, 9 Oktober 2019 16:28 WIB
Kantor Bulog Sub Divisi Regional Solok. (Antara/Tri Asmaini)
Solok (ANTARA) - Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Solok, Sumatera Barat baru menyerap sekitar 25 ton beras premium dari petani pada 2019 untuk menyuplai beras ke Elektronik Warung Gotong Royong (E-Warong) setempat.
"Penyerapan beras kita untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui E-Warong tergantung permintaan pemilik toko," kata Kepala Bulog Sub Divisi Regional Solok, Riza Afrina di Solok, Rabu.
Menurutnya, sebelum program Beras Sejahtera (Rastra) menjadi BPNT, penyerapan beras medium untuk Rastra mencapai 600 ton per bulan untuk daerah Sub Divisi Regional Solok.
Daerah Sub Divisi Regional terdiri dari Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Dharmasraya, Kota Solok dan Sawahlunto.
Program BPNT di Kabupaten Sijunjung dan Solok baru akan berjalan pada Oktober 2019.
Tapi, karena berubahnya pola bantuan Rastra menjadi Pangan Non Tunai, penyerapan beras hanya yang premium seperti Sokan dan Anak Daro, tidak lagi beras dengan kualitas sedang (medium).
"Jadi, sebelumnya banyak masyarakat penerima rastra di Sumbar yang mengeluhkan kualitas berasnya yang buruk. Untuk itu setelah program ditukar menjadi BPNT, masyarakat bebas memilih beras yang akan dibeli," ujarnya.
Setiap penerima BPNT mendapat bantuan Rp110.000 perbulan yang dikirim ke rekening. Kemudian, penerima bantuan dapat menukarkan bantuan dengan beras atau telur sesuai kebutuhan di E-Warong khusus.
Satu E-warong biasanya bisa melayani hingga 250 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
"Jadi, penerima bantuan bebas membeli beras yang diinginkan atau telur yang dibutuhkan," ujarnya.
Pihaknya berharap dengan berubahnya bentuk bantuan Rastra menjadi BPNT, pemikiran masyrakat tentang Bulog yang hanya menyediakan beras murah kualitas buruk berubah.
"Padahal kami juga menjual beras kualitas bagus seperti Sokan atau Anak Daro yang akan bersaing dengan swasta. Tapi, pemikiran masyarakat Bulog hanya memiliki beras kualitas buruk," ujarnya.
Riza menyebutkan fungsi Bulog tetap seperti pemerataan penyaluran beras. Jadi, daerah yang berasnya surplus didistribusikan ke daerah yang defisit produksi berasnya.
"Jadi, petani tetap untung, walau hasil panen berlimpah, karena didistribusikan ke daerah lain," ujarnya.
"Penyerapan beras kita untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui E-Warong tergantung permintaan pemilik toko," kata Kepala Bulog Sub Divisi Regional Solok, Riza Afrina di Solok, Rabu.
Menurutnya, sebelum program Beras Sejahtera (Rastra) menjadi BPNT, penyerapan beras medium untuk Rastra mencapai 600 ton per bulan untuk daerah Sub Divisi Regional Solok.
Daerah Sub Divisi Regional terdiri dari Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Dharmasraya, Kota Solok dan Sawahlunto.
Program BPNT di Kabupaten Sijunjung dan Solok baru akan berjalan pada Oktober 2019.
Tapi, karena berubahnya pola bantuan Rastra menjadi Pangan Non Tunai, penyerapan beras hanya yang premium seperti Sokan dan Anak Daro, tidak lagi beras dengan kualitas sedang (medium).
"Jadi, sebelumnya banyak masyarakat penerima rastra di Sumbar yang mengeluhkan kualitas berasnya yang buruk. Untuk itu setelah program ditukar menjadi BPNT, masyarakat bebas memilih beras yang akan dibeli," ujarnya.
Setiap penerima BPNT mendapat bantuan Rp110.000 perbulan yang dikirim ke rekening. Kemudian, penerima bantuan dapat menukarkan bantuan dengan beras atau telur sesuai kebutuhan di E-Warong khusus.
Satu E-warong biasanya bisa melayani hingga 250 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
"Jadi, penerima bantuan bebas membeli beras yang diinginkan atau telur yang dibutuhkan," ujarnya.
Pihaknya berharap dengan berubahnya bentuk bantuan Rastra menjadi BPNT, pemikiran masyrakat tentang Bulog yang hanya menyediakan beras murah kualitas buruk berubah.
"Padahal kami juga menjual beras kualitas bagus seperti Sokan atau Anak Daro yang akan bersaing dengan swasta. Tapi, pemikiran masyarakat Bulog hanya memiliki beras kualitas buruk," ujarnya.
Riza menyebutkan fungsi Bulog tetap seperti pemerataan penyaluran beras. Jadi, daerah yang berasnya surplus didistribusikan ke daerah yang defisit produksi berasnya.
"Jadi, petani tetap untung, walau hasil panen berlimpah, karena didistribusikan ke daerah lain," ujarnya.
Pewarta : Tri Asmaini
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wako Solok tinjau dan salurkan bantuan korban kebakaran di Simpang Rumbio
05 February 2026 19:43 WIB
Wawako Solok buka pelatihan dasar CPNS Kota Solok tahun 2026 sebanyak 111 orang
05 February 2026 19:35 WIB
Pemkab Solok sambut kedatangan audiensi Yari -- Eno School Finland Student Exchange
31 January 2026 22:22 WIB
Wali Kota Solok Hadiri Rakor Kepala Daerah se-Sumbar Bahas Penanganan Pasca Bencana
31 January 2026 18:15 WIB
Wawako Solok Sambut kunjungan Yayasan Yari School dan Perwakilan Eno School Finlandia
31 January 2026 18:12 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (09/02/2026) hari ini, simak daftarnya
09 February 2026 9:06 WIB
Minggu (08/02/2026) hari ini, Harga emas UBS Rp2,972 juta per gr, Galeri24 Rp2,958 juta per gr
08 February 2026 9:00 WIB