Lubukbasung,  (ANTARA) - Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Wilayah Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melatih petani keramba jaring apung Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, membudidayakan ikan lele dengan menggunakan bioflok. 

Kepala Sub Bidang Pertambangan Energi Pertanian dan Kelautan P3E Wilayah Sumatera, Yulianti di Lubukbasung, Senin, mengatakan pelatihan bagi 30 petani keramba jaring apung Danau Maninjau, di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjungraya, itu untuk mengurangi pencemaran danau Maninjau.

Selain itu untuk memotivasi petani keramba jarig apung beralih dari usaha budidaya ikan di danau ke daratan.

Sebab, tambahnya, danau tersebut dalam kondisi tercemar berat sehingga tidak sedikit petani yang mengalami kerugian akibat ikan mati secara massal.

"Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ini, namun dengan kondisi pencemaran yang sudah parah, maka butuh proses untuk memulihkannya," katanya.

Narasumber pelatihan, Hafrijal Syandri menambahkan, keuntungan budidaya ikan lele sistem bioflok PH air relatif stabil, hasil panen akan maksimal, memanfaatkan limbah tambak, tidak perlu sering ganti air, lebih ramah lingkungan dan lainnya.

"Secara ekonomis, usaha budidaya ikan lele sangat menguntungkan serta tidak membutuhkan perawatan yang tidak begitu rumit," katanya.

Teknologi bioflok pada awalnya merupakan edopsi dari teknologi pengolahan limbah lumpur aktif secara biologi dengan melibatkan aktivitas mikroorganisme atau bakteri.

Mikroorganisme dengan kemampuan lisis bahan organik memanfaatkan detritus sebagai makanan.

Sel bakteri mensekresi lendir motabolit, biopolymer atau senyawa kombinasi dan terakumulasi di sekitar dinding sel detritus.

"Kesalingtertarikan antara dinding sel bakteri menyebabkan munculnya flok bakteri," katanya.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan dan Katahanan Pangan Agam, Edi Netrial mengucapkan terimakasih atas pelatihan yang diberikan dalam mengurangi pencemaran danau.

Dengan tercemarnya danau, maka produksi ikan air tawar terjadi penurunan sekitar 50 persen.

"Biasanya produksi ikan sekitar 75 ton per hari turun menjadi 40 ton per hari. Ini berdasarkan data perbandingan produksi 2013 dengan 2019," katanya. (*) 

Pewarta : Yusrizal
Editor : Joko Nugroho
Copyright © ANTARA 2024