Solok Selatan bentuk Satgas Karhutla
Rabu, 25 September 2019 17:57 WIB
Ilustrasi. (ANTARA)
Padang Aro (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, mulai menyusun pembentukan satuan tugas antisipasi kebakaran hutan dan lahan (Satgas Karhutla) di daerah itu untuk mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
"Pembentukan Satgas Karhutla ini baru mulai pembahasan tahap awal dan setelah terbentuk nanti diharapkan bisa bekerja terpadu dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perumkin dan LH) Solok Selatan, Amril Bakri, di Padang Aro, Rabu.
Pembentukan satgas karhutla juga melibatkan wali nagari se-Solok Selatan dengan harapan minggu depan sudah ada draf SK-nya.
Dia menyebutkan, Satgas Karhutla akan melibatkan semua unsur terkait yang akan bekerja secara terpadu seperti pimpinan daerah, OPD terkait, TNI/Polri hingga unsur nagari.
Melalui Satgas ini, ujarnya, akan dilakukan upaya preemtif dan preventif persoalan kebakaran dan dampaknya ke masyarakat, terutama wilayah rawan ancaman kebakaran.
Pembentukan Satgas Karhutla merupakan sebuah kewajiban bagi daerah-daerah yang masuk rawan terjadinya kebakaran dan Solok Selatan sendiri termasuk daerah rawan karhutla.
"Pencegahan karhutla harus dilakukan secara serius dan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh komponen, terutama kelompok masyarakat yang bersinggungan langsung dengan kawasan hutan dan lahan," ujarnya.
Menurut dia, pencegahan karhutla akan lebih efektif dan efisien bila dibandingkan dengan penanganan setelah terjadinya kebakaran.
"Untuk anggaran operasional Satgas akan menggunakan dana bagi hasil dan reboisasi Kehutanan," katanya.
Untuk Solok Selatan sendiri ada beberapa wilayah yang rawan Karhutla saat kemarau yaitu di perbatasan Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari serta di Koto Parik Gadang Diateh.
"Pembentukan Satgas Karhutla ini baru mulai pembahasan tahap awal dan setelah terbentuk nanti diharapkan bisa bekerja terpadu dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perumkin dan LH) Solok Selatan, Amril Bakri, di Padang Aro, Rabu.
Pembentukan satgas karhutla juga melibatkan wali nagari se-Solok Selatan dengan harapan minggu depan sudah ada draf SK-nya.
Dia menyebutkan, Satgas Karhutla akan melibatkan semua unsur terkait yang akan bekerja secara terpadu seperti pimpinan daerah, OPD terkait, TNI/Polri hingga unsur nagari.
Melalui Satgas ini, ujarnya, akan dilakukan upaya preemtif dan preventif persoalan kebakaran dan dampaknya ke masyarakat, terutama wilayah rawan ancaman kebakaran.
Pembentukan Satgas Karhutla merupakan sebuah kewajiban bagi daerah-daerah yang masuk rawan terjadinya kebakaran dan Solok Selatan sendiri termasuk daerah rawan karhutla.
"Pencegahan karhutla harus dilakukan secara serius dan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh komponen, terutama kelompok masyarakat yang bersinggungan langsung dengan kawasan hutan dan lahan," ujarnya.
Menurut dia, pencegahan karhutla akan lebih efektif dan efisien bila dibandingkan dengan penanganan setelah terjadinya kebakaran.
"Untuk anggaran operasional Satgas akan menggunakan dana bagi hasil dan reboisasi Kehutanan," katanya.
Untuk Solok Selatan sendiri ada beberapa wilayah yang rawan Karhutla saat kemarau yaitu di perbatasan Kecamatan Sangir Balai Janggo dan Sangir Batang Hari serta di Koto Parik Gadang Diateh.
Pewarta : Erik Ifansya Akbar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Rakor Pengendalian Karhutla Sumbar rumuskan strategi penanganan pada 2026
24 November 2025 12:14 WIB
Antisipasi korban jiwa, Komisi IV DPR RI minta SOP pamadaman karhutla dijalankan dengan ketat
07 August 2025 5:59 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Sumbar butuh skuadron SAR sebagai mitigasi bencana, legislator Sumbar paparkan alasannya
25 February 2026 20:56 WIB
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB