Konferensi Palestina versi AS akan dihadiri Mesir, Jordania, dan Maroko
Rabu, 12 Juni 2019 16:15 WIB
Arsip:. Arsip: Warga Palestina berjalan melewati mural bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump di bagian perbatasan Israel, di kota Betlehem, Tepi Barat, Rabu (6/12/2017).
Washington, (ANTARA) - Mesir, Jordania dan Maroko telah memberi tahu pemerintahan Trump bahwa mereka akan menghadiri konferensi pimpinan Amerika Serikat soal Palestina di Bahrain pada Juni, kata sejumlah pejabat AS, Selasa (11/5).
Konferensi tersebut akan membahas usulan cara meningkatkan perekonomian Palestina sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diajukan AS.
Partisipasi Mesir dan Jordania dianggap sangat penting karena selama ini mereka adalah pemain-pemain kunci dalam upaya perdamaian Israel-Palestina.
Mesir dan Jordania juga adalah hanya dua negara Arab yang telah mencapai kesepakatan perdamaian dengan Israel.
Namun, keputusan para pemimpin Palestina untuk memboikot konferensi itu, yang akan dilangsungkan pada 25-26 Juni di Manama, telah memunculkan keraguan bahwa pertemuan itu akan sukses.
Para pemimpin Palestina tidak mau terlibat upaya diplomatik lebih luas itu, yang digembar-gemborkan Presiden AS Donald Trump sebagai "kesepakatan abad ini". Palestina sendiri melihat rencana perdamaian versi AS tersebut condong lebih menguntungkan Israel serta tidak memedulikan hak Palestina untuk mendirikan negara sendiri.
Kendati demikian, penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner, yang juga adalah menantu Trump serta perancang rencana perdamaian yang telah lama tertunda itu, terus berusaha keras membuat konferensi Bahrain berhasil. Pada pertemuan Bahrain, komponen ekonomi akan diperkenalkan sebagai tahap pertama rangkaian rencana perdamaian yang dirancang AS.
Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab juga telah memastikan bahwa mereka akan hadir pada konferensi Bahrain, menurut seorang pejabat Gedung Putih.
Sejumlah pejabat AS telah mengungkapkan bahwa mereka mengundang para menteri ekonomi dan keuangan berbagai negara serta para pemimpin perusahaan di kawasan dan dunia guna membahas investasi bagi perekonomian Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Lembaga-lembaga keuangan global, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga akan hadir.
Sebagian besar pakar telah mengungkapkan keraguan mereka bahwa pemerintahan Trump akan berhasil mengusung rencana perdamaian tersebut mengingat bahwa upaya-upaya perdamaian yang berpuluh-puluh tahun didukung AS mengalami kegagalan.
Pemerintahan Palestina telah menolak melakukan kontak diplomatik dengan pemerintahan Trump sejak AS pada 2017 mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan AS memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke kota itu.
Palestina menginginkan wilayah timur Yerusalem, yang dicaplok Israel dalam perang 1967 dalam langkah yang tidak diakui masyarakat internasional, sebagai ibu kota negara mereka pada masa depan. (*)
Konferensi tersebut akan membahas usulan cara meningkatkan perekonomian Palestina sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diajukan AS.
Partisipasi Mesir dan Jordania dianggap sangat penting karena selama ini mereka adalah pemain-pemain kunci dalam upaya perdamaian Israel-Palestina.
Mesir dan Jordania juga adalah hanya dua negara Arab yang telah mencapai kesepakatan perdamaian dengan Israel.
Namun, keputusan para pemimpin Palestina untuk memboikot konferensi itu, yang akan dilangsungkan pada 25-26 Juni di Manama, telah memunculkan keraguan bahwa pertemuan itu akan sukses.
Para pemimpin Palestina tidak mau terlibat upaya diplomatik lebih luas itu, yang digembar-gemborkan Presiden AS Donald Trump sebagai "kesepakatan abad ini". Palestina sendiri melihat rencana perdamaian versi AS tersebut condong lebih menguntungkan Israel serta tidak memedulikan hak Palestina untuk mendirikan negara sendiri.
Kendati demikian, penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner, yang juga adalah menantu Trump serta perancang rencana perdamaian yang telah lama tertunda itu, terus berusaha keras membuat konferensi Bahrain berhasil. Pada pertemuan Bahrain, komponen ekonomi akan diperkenalkan sebagai tahap pertama rangkaian rencana perdamaian yang dirancang AS.
Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab juga telah memastikan bahwa mereka akan hadir pada konferensi Bahrain, menurut seorang pejabat Gedung Putih.
Sejumlah pejabat AS telah mengungkapkan bahwa mereka mengundang para menteri ekonomi dan keuangan berbagai negara serta para pemimpin perusahaan di kawasan dan dunia guna membahas investasi bagi perekonomian Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Lembaga-lembaga keuangan global, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga akan hadir.
Sebagian besar pakar telah mengungkapkan keraguan mereka bahwa pemerintahan Trump akan berhasil mengusung rencana perdamaian tersebut mengingat bahwa upaya-upaya perdamaian yang berpuluh-puluh tahun didukung AS mengalami kegagalan.
Pemerintahan Palestina telah menolak melakukan kontak diplomatik dengan pemerintahan Trump sejak AS pada 2017 mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan AS memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke kota itu.
Palestina menginginkan wilayah timur Yerusalem, yang dicaplok Israel dalam perang 1967 dalam langkah yang tidak diakui masyarakat internasional, sebagai ibu kota negara mereka pada masa depan. (*)
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menyentuh Hati: Warga Palestina kirim bantuan untuk korban banjir di Sumbar
06 December 2025 16:18 WIB
Aksi bela dan konser amal Opick dari Padang Panjang untuk Palestina kumpulkan donasi Rp.310 juta
23 November 2025 18:52 WIB
Pemkot Bukittinggi ungkap donasi untuk Palestina bersama Band Wali capai Rp 845 juta
20 October 2025 13:46 WIB
Jam Gadang 88 diresmikan Gubernur Sumbar, donasikan ratusan juta untuk Palestina
18 October 2025 14:34 WIB
Laga kualifikasi Piala Dunia 2026 Italia vs Israel diwarnai bentrokan demonstran pro-Palestina
15 October 2025 11:43 WIB
Persatuan Alumni SLTA Se-Bukittinggi Agam, Jam Gadang 88 galang dana kemanusiaan untuk Palestina
13 October 2025 13:31 WIB