Sebar hoaks, Menkominfo: banyak ruginya
Rabu, 24 April 2019 17:57 WIB
Dialog Menyatukan Perbedaan Membangun Negeri yang diisi oleh Menkominfo Rudiantara di Bukittinggi, Rabu (24/4/2019) (ANTARA SUMBAR/istimewa)
Bukittinggi (ANTARA) -
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak masyarakat agar menangkal hoaks dengan cara mengingat banyaknya pulsa yang akan terbuang ketika ikut menyebarkan berita bohong.
"Ikut-ikutan sebar hoaks, sayang pulsa kita dan bisa rugi dua kali," katanya di Bukittinggi, Rabu, usai mengisi dialog bertema Menyatukan Perbedaan Membangun Negeri.
Ia menerangkan di era media sosial, komunikasi banyak dilakukan melalui aplikasi sehingga penerima dan pengirim konten sama-sama dikenakan biaya.
Hal itu berbeda jika dibandingkan komunikasi dahulu hanya pihak yang menghubungi saja yang akan menanggung biaya.
"Jadi ketika menerima foto, video, atau tulisan, penerima dan pengirim sama-sama kena biaya, pulsanya sama-sama 'kesedot'," ujarnya.
Menurutnya masyarakat akan rugi dua kali karena kondisi itu, yaitu menerima kabar tidak benar lalu pulsa terbuang percuma hanya untuk menyebarkan informasi tanpa manfaat.
"Di era media sosial harus cermat, jangan sampai rugi dua kali," katanya.
Ia menerangkan informasi bohong biasanya ditandai dengan informasi yang mengatasnamakan golongan tertentu disertai ajakan untuk segera menyebarluaskan.
Kemkominfo, sebutnya telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi penyebaran hoaks di antaranya melalui literasi digital agar masyarakat cerdas ketika menyimak informasi di dunia maya.
Selanjutnya, Kemkominfo juga memantau informasi yang beredar. Jika ditemukan hoaks, selain melakukan take down, pihaknya mengambil langkah dengan menyandingkan hoaks yang telah tersebar dengan informasi yang sebenarnya.
"Dengan cara ini, tampak bedanya, hoaksnya seperti apa sementara kondisi aslinya," katanya.
Langkah terakhir yaitu dengan bekerja sama dengan aparat hukum dalam penindakan. (*)
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak masyarakat agar menangkal hoaks dengan cara mengingat banyaknya pulsa yang akan terbuang ketika ikut menyebarkan berita bohong.
"Ikut-ikutan sebar hoaks, sayang pulsa kita dan bisa rugi dua kali," katanya di Bukittinggi, Rabu, usai mengisi dialog bertema Menyatukan Perbedaan Membangun Negeri.
Ia menerangkan di era media sosial, komunikasi banyak dilakukan melalui aplikasi sehingga penerima dan pengirim konten sama-sama dikenakan biaya.
Hal itu berbeda jika dibandingkan komunikasi dahulu hanya pihak yang menghubungi saja yang akan menanggung biaya.
"Jadi ketika menerima foto, video, atau tulisan, penerima dan pengirim sama-sama kena biaya, pulsanya sama-sama 'kesedot'," ujarnya.
Menurutnya masyarakat akan rugi dua kali karena kondisi itu, yaitu menerima kabar tidak benar lalu pulsa terbuang percuma hanya untuk menyebarkan informasi tanpa manfaat.
"Di era media sosial harus cermat, jangan sampai rugi dua kali," katanya.
Ia menerangkan informasi bohong biasanya ditandai dengan informasi yang mengatasnamakan golongan tertentu disertai ajakan untuk segera menyebarluaskan.
Kemkominfo, sebutnya telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi penyebaran hoaks di antaranya melalui literasi digital agar masyarakat cerdas ketika menyimak informasi di dunia maya.
Selanjutnya, Kemkominfo juga memantau informasi yang beredar. Jika ditemukan hoaks, selain melakukan take down, pihaknya mengambil langkah dengan menyandingkan hoaks yang telah tersebar dengan informasi yang sebenarnya.
"Dengan cara ini, tampak bedanya, hoaksnya seperti apa sementara kondisi aslinya," katanya.
Langkah terakhir yaitu dengan bekerja sama dengan aparat hukum dalam penindakan. (*)
Pewarta : Ira Febrianti
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ditunjuk jadi Dirut PLN
25 November 2019 14:03 WIB, 2019
Jabatan Menkominfo diserahkan ke Johnny G Plate, ini pesan Rudiantara
23 October 2019 14:42 WIB, 2019
Indonesia akan tambah tiga satelit lagi untuk tingkatkan jangkauan internet
14 October 2019 15:24 WIB, 2019
BukaLapak sebut kurang dari 10 persen karyawan di PHK oleh startup e-commerce
16 September 2019 18:46 WIB, 2019