Muaro (Antaranews Sumbar) - Kalangan petani di Kabupaten Sijunjung, yang tergabung dalam kelompok mendapat pelatihan pengohalan komoditas holtikultura, guna mendorong peningkatan perekonomian mereka.
Komoditas yang akan dibuat untuk menjadi produk olahan tersebut, yakni cabai dan bawang merah, diharapkan mendatangkan nilai tambah.
Pelatihan diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung di instansi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut pada 8 November 2018.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Sijunjung Ning Wisma Utami, mengatakan tujuan kegiatan untuk menambah nilai ekomonis dari cabai dan bawang merah.
Jadi, petani tidak hanya menjual dalam bentuk barang mentah tetapi ada turunannya yang merupakan produk olahan pangan.
"Ketika nilai harga cabai dan bawang merah turun, sedangkan bahan tersebut kalau sudah menjadi produk olahan pangan tentu nilai jualnya naik, dampaknya terhadap ekonomi masyarakat meningkat," ujar Ning.
Sebab, dua komoditas holtikultura itu tidak bisa disimpan dalam waktu lama, hal itulah yang membuat kerugian para petani.
"Dengan mengolah cabai dan bawang merah tersebut menjadi produk saos cabai, bawang Iris Kering, cabai kering bubuk, bawang goreng, tepung cabai dan cabai kering, inilah satu cara bagaimana mengimbangi kerugian petani tidak terjadi," jelasnya.
Kegiatan ini diikuti 30 orang utusan dari Kelompok Tani dari delapan kecamatan, yaitu Sumpur Kudus, Koto VII, Kupitan, IV Nagari, Lubuk Tarok, Tanjung Gadang, Sijnjung dan Kamang Baru.
Narasumber yang dilibatkan dalam program pelatihan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat (BPTP), Ir. Kasma Iswari, MS, yang merupakan peneliti.
Ia berharap petani cabai maupun bawang kedepannya jika terjadi panen raya dimana harga anjlok, petani dapat mengolah menjadi produk turunan yang memakai bahan baku cabe maupun bawang, sehingga memiliki nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat khususnya di Ranah Lansek Manih ini.
Kendatipun harga anjlok petani tidak begitu merasakan dampak dan alami kerugian besar, karena produk olahan harga bisa relatif stabil.
"Apabila saat harga murah kalau petani tetap menjual dengan harga terjangkau atau mengkonsumsi produknya, sudah memiliki stok di rumah seperti cabe kering yang bisa bertahan sampai dua tahun," ujarnya.*
Komoditas yang akan dibuat untuk menjadi produk olahan tersebut, yakni cabai dan bawang merah, diharapkan mendatangkan nilai tambah.
Pelatihan diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung di instansi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut pada 8 November 2018.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Sijunjung Ning Wisma Utami, mengatakan tujuan kegiatan untuk menambah nilai ekomonis dari cabai dan bawang merah.
Jadi, petani tidak hanya menjual dalam bentuk barang mentah tetapi ada turunannya yang merupakan produk olahan pangan.
"Ketika nilai harga cabai dan bawang merah turun, sedangkan bahan tersebut kalau sudah menjadi produk olahan pangan tentu nilai jualnya naik, dampaknya terhadap ekonomi masyarakat meningkat," ujar Ning.
Sebab, dua komoditas holtikultura itu tidak bisa disimpan dalam waktu lama, hal itulah yang membuat kerugian para petani.
"Dengan mengolah cabai dan bawang merah tersebut menjadi produk saos cabai, bawang Iris Kering, cabai kering bubuk, bawang goreng, tepung cabai dan cabai kering, inilah satu cara bagaimana mengimbangi kerugian petani tidak terjadi," jelasnya.
Kegiatan ini diikuti 30 orang utusan dari Kelompok Tani dari delapan kecamatan, yaitu Sumpur Kudus, Koto VII, Kupitan, IV Nagari, Lubuk Tarok, Tanjung Gadang, Sijnjung dan Kamang Baru.
Narasumber yang dilibatkan dalam program pelatihan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat (BPTP), Ir. Kasma Iswari, MS, yang merupakan peneliti.
Ia berharap petani cabai maupun bawang kedepannya jika terjadi panen raya dimana harga anjlok, petani dapat mengolah menjadi produk turunan yang memakai bahan baku cabe maupun bawang, sehingga memiliki nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat khususnya di Ranah Lansek Manih ini.
Kendatipun harga anjlok petani tidak begitu merasakan dampak dan alami kerugian besar, karena produk olahan harga bisa relatif stabil.
"Apabila saat harga murah kalau petani tetap menjual dengan harga terjangkau atau mengkonsumsi produknya, sudah memiliki stok di rumah seperti cabe kering yang bisa bertahan sampai dua tahun," ujarnya.*