Harga minyak turun lebih dari satu persen setelah badai gordon mereda
Kamis, 6 September 2018 6:49 WIB
Ilustrasi, harga minyak. (Antara)
New York, (Antaranews Sumbar) - Harga minyak turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) setelah Badai Tropis Gordon melemah dan menjauh dari daerah-daerah penghasil minyak, serta dipicu pula meningkatnya kekhawatiran bahwa perselisihan dagang global dan krisis mata uang Turki akan mengurangi permintaan.
Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 1,15 dolar AS atau 1,65 persen menjadi menetap di 68,72 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 90 sen AS atau 1,15 persen menjadi ditutup pada 77,27 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global telah naik di sesi sebelumnya menjadi 79,72 dolar AS per barel, tertinggi sejak Mei.
Minyak mentah melonjak pada Selasa (4/9) karena perusahaan-perusahaan minyak menutup lusinan anjungan lepas pantai untuk mengantisipasi kerusakan akibat Badai Tropis Gordon.
Namun, pada Rabu (5/9) badai tropis itu telah mendarat dan melemah tidak menimbulkan kerusakan besar pada fasilitas produksi minyak lepas pantai dan perusahaan-perusahaan energi serta operator pelabuhan di sepanjang Pantai Teluk AS mengambil langkah-langkah untuk melanjutkan kembali operasinya.
"Harga kemarin (4/9) naik dalam antisipasi bahwa badai dapat menimbulkan kerusakan pada sektor produksi dan penyulingan, tetapi setelah semua dikatakan dan terjadi kami kehilangan sedikit produksi serta kilang-kilang di Mississippi dan Louisiana terus berjalan saat Gordon melakukan pendaratan," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.
Secara keseluruhan, perusahaan menghentikan 156.907 barel per hari produksi minyak, menurut perkiraan Selasa (4/9) oleh Biro Keamanan dan Penegakan Lingkungan AS.
Minyak juga melemah karena perselisihan perdagangan Amerika Serikat-China meningkatkan kekhawatiran permintaan. Trump dapat mengenakan tarif pada lebih dari 200 miliar dolar AS impor dari China setelah periode komentar publik tentang tarif baru berakhir pada Kamis.
Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan, sengketa perdagangan global dapat merugikan permintaan energi di waktu mendatang.
Juga membebani minyak mentah berjangka adalah krisis mata uang di Turki. Lira telah jatuh lebih dari 40 persen tahun ini.
"Kekhawatiran krisis mata uang Turki menyebar ke pasar negara berkembang lainnya, yang telah mendorong kekhawatiran sisi permintaan," kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy.
Minyak dapat memperoleh dukungan, jika laporan mingguan tentang persediaan AS menunjukkan penurunan dalam stok minyak mentah, seperti yang diperkirakan. Para analis memperkirakan, secara rata-rata, bahwa stok turun sekitar 1,9 juta barel pekan lalu.
American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, merilis laporan persediaannya pada pukul 16.30 waktu setempat (20.30 GMT) pada Rabu (5/9), sehari lebih lambat dari biasanya karena hari libur Hari Buruh AS pada Senin (3/9). Angka resmi pemerintah juga tertunda hingga Kamis.
Sanksi-sanksi AS yang menargetkan sektor minyak Iran mulai November sudah mengurangi ekspor dari produsen terbesar ketiga OPEC itu dan menetralkan dampak dari perjanjian oleh OPEC dan sekutu-sekutunya untuk memproduksi lebih banyak minyak.
"Dengan antisipasi hingga 1,5 juta barel per hari dari dampak sanksi-sanksi AS terhadap Iran, orang akan memperkirakan harga akan bergerak lebih tinggi pada minggu-minggu mendatang," kata Stephen Innes, dari broker berjangka OANDA.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu (5/9) bahwa dia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan Iran dan itu tidak menjadi masalah baginya jika para pemimpin Iran ingin berbicara dengannya atau tidak. (*)
Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 1,15 dolar AS atau 1,65 persen menjadi menetap di 68,72 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 90 sen AS atau 1,15 persen menjadi ditutup pada 77,27 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global telah naik di sesi sebelumnya menjadi 79,72 dolar AS per barel, tertinggi sejak Mei.
Minyak mentah melonjak pada Selasa (4/9) karena perusahaan-perusahaan minyak menutup lusinan anjungan lepas pantai untuk mengantisipasi kerusakan akibat Badai Tropis Gordon.
Namun, pada Rabu (5/9) badai tropis itu telah mendarat dan melemah tidak menimbulkan kerusakan besar pada fasilitas produksi minyak lepas pantai dan perusahaan-perusahaan energi serta operator pelabuhan di sepanjang Pantai Teluk AS mengambil langkah-langkah untuk melanjutkan kembali operasinya.
"Harga kemarin (4/9) naik dalam antisipasi bahwa badai dapat menimbulkan kerusakan pada sektor produksi dan penyulingan, tetapi setelah semua dikatakan dan terjadi kami kehilangan sedikit produksi serta kilang-kilang di Mississippi dan Louisiana terus berjalan saat Gordon melakukan pendaratan," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.
Secara keseluruhan, perusahaan menghentikan 156.907 barel per hari produksi minyak, menurut perkiraan Selasa (4/9) oleh Biro Keamanan dan Penegakan Lingkungan AS.
Minyak juga melemah karena perselisihan perdagangan Amerika Serikat-China meningkatkan kekhawatiran permintaan. Trump dapat mengenakan tarif pada lebih dari 200 miliar dolar AS impor dari China setelah periode komentar publik tentang tarif baru berakhir pada Kamis.
Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan, sengketa perdagangan global dapat merugikan permintaan energi di waktu mendatang.
Juga membebani minyak mentah berjangka adalah krisis mata uang di Turki. Lira telah jatuh lebih dari 40 persen tahun ini.
"Kekhawatiran krisis mata uang Turki menyebar ke pasar negara berkembang lainnya, yang telah mendorong kekhawatiran sisi permintaan," kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy.
Minyak dapat memperoleh dukungan, jika laporan mingguan tentang persediaan AS menunjukkan penurunan dalam stok minyak mentah, seperti yang diperkirakan. Para analis memperkirakan, secara rata-rata, bahwa stok turun sekitar 1,9 juta barel pekan lalu.
American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, merilis laporan persediaannya pada pukul 16.30 waktu setempat (20.30 GMT) pada Rabu (5/9), sehari lebih lambat dari biasanya karena hari libur Hari Buruh AS pada Senin (3/9). Angka resmi pemerintah juga tertunda hingga Kamis.
Sanksi-sanksi AS yang menargetkan sektor minyak Iran mulai November sudah mengurangi ekspor dari produsen terbesar ketiga OPEC itu dan menetralkan dampak dari perjanjian oleh OPEC dan sekutu-sekutunya untuk memproduksi lebih banyak minyak.
"Dengan antisipasi hingga 1,5 juta barel per hari dari dampak sanksi-sanksi AS terhadap Iran, orang akan memperkirakan harga akan bergerak lebih tinggi pada minggu-minggu mendatang," kata Stephen Innes, dari broker berjangka OANDA.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu (5/9) bahwa dia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan Iran dan itu tidak menjadi masalah baginya jika para pemimpin Iran ingin berbicara dengannya atau tidak. (*)
Pewarta : Antara
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinas Pertanian Serahkan 300 Liter Minyak Goreng untuk Bantuan Tanggap Darurat di Pesisir Selatan
04 December 2025 14:11 WIB
Mentan: Beras dan minyak dikirim bantu korban banjir Aceh, Sumut, dan Sumbar
29 November 2025 6:14 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas Antam Sabtu (14/02/2026) hari ini naik Rp50 ribu jadi Rp2,954 juta per gram
14 February 2026 9:44 WIB
Sabtu (14/02/2026) hari ini, emas UBS Rp2,961 juta per gr, Galeri24 Rp2,938 juta per gr
14 February 2026 6:25 WIB
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB