Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat pemilu Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Aidinil Zetra, PhD mengatakan penyelenggara pemilu dapat memanfaatkan media sosial (Medsos) sebagai sarana efektif menjaring partisipasi pemilih pemula.

        "Ajakan melalui medsos dapat menjadi ajang pendidikan politik baru bagi pemilih pemula, karena penggunanya kebanyakan anak-anak muda," katanya di Padang, Rabu.

        Ia menambahkan dengan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram sampaikan informasi terkait Pilkada dengan gaya bahasa anak muda, sehingga pesan yang diberikan bisa sampai sesuai perkiraan.

        Ia menerangkan bukan hanya KPU dan Bawaslu/Panwaslu sebagai penyelenggara pemilu yang harus melakukan inovasi dan kreatif dalam menyampaikan pendidikan politik.

         Tetapi, ujarnya partai politik, lembaga pendidikan menengah dan tinggi, para pemimpin publik, tokoh masyarakat agama, adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda harus bersama-sama untuk meningkatkan partisipasi pemilih baru pada Pilkada 2018.

        "Karena dengan keikutsertaan berbagai pihak dapat memperbesar potensi menambahnya partisipan pemilih baru," lanjutnya.

        Menurutnya dalam beberapa kali pilkada yang diadakan beberapa tahun kebelakang ini yang melibatkan pemilih Kota Padang terlihat kecenderungan yang fluktuatif.

        Ia menyebutkan perbandingan partisipasi saat pilkada 2013 persentase partisipasi pemilih sebanyak 57,7 persen, pada putaran kedua turun menjadi 53,6 persen dan pada pemilu presiden 2014 naik lagi menjadi 61,31%.

        Namun, kata dia pada pemilihan gubernur 2015 turun lagi menjadi 52,06 %.

         Jika pada pilkada 2018 tidak ada upaya serius dari penyelenggara pemilu dan semua pemangku kepentingan pemilu, maka kecil sekali harapan angka partisipasi pemilih di Padang akan meningkat.

        Ia mengemukakan ditambah dengan beberapa kali survei yang dilakukan oleh Pusat Studi Politik Lokal dan Otonomi Daerah (Polokda) Unand terlihat bahwa persentase masyarakat kota padang yang belum mengetahui akan dilaksanakan Pilkada Tahun 2018 di kota mereka masih cukup tinggi.

        "Untuk pemilih yang sudah mengetahui pelaksanaan Pilkada 2018 tentang rencana mereka untuk menggunakan hak pilih, mereka menjawab ragu-ragu hingga jumlahnya 50 persen," jelasnya.

        Ia menambahkan mereka yang masih ragu akan pilihannya ini adalah para pemilih usia muda yaitu antara 17-22 tahun.

        Ia melanjutkan alasan mereka kebanyakan merasa tidak yakin akan manfaat pilkada untuk kehidupannya.

        "Mereka tidak yakin bahwa dengan ikut memberi suara dalam pilkada akan mampu merubah keadaan," ujarnya.   (*)


Pewarta : Lestarysca
Editor :
Copyright © ANTARA 2024