Pagi itu matahari masih berada dibalik ufuk timur, namun selepas Subuh Sri Mulyani dan Ronaldi telah siap menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer menuju sekolah dasar tercinta tempat mereka menuntut ilmu guna menggapai cita-cita.

         Sementara Saiful dan adik perempuannya Tri Delfa Yeni harus berjalan kaki sejauh enam kilometer menembus hutan belantara dan sungai agar bisa sampai di SMP tempat mereka belajar.

         Empat bersaudara tersebut adalah anak dari pasangan Katar (51) dan Jetri Murni (40) warga Korong Sawah Tuko, Nagari Kampuang Tanjuang Koto Mambang Sungai Durian, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.

         Keluarga besar dengan 14 anak itu telah hidup dan menetap kurang lebih selama 18 tahun di perkampungan kecil yang dikelilingi hutan dan persawahan serta terisolasi tanpa dialiri arus listrik.

         Jauhnya perjalanan ke sekolah membuat empat bersaudara itu bangun lebih pagi dibandingkan teman sebaya dan harus meninggalkan rumah saat hari masih gelap.

         Perjalanan satu hingga dua jam ke sekolah telah menjadi makanan sehari-hari, terkadang mereka pun tak sempat sarapan pagi karena tak ada yang akan disantap.

         Namun hal itu tidak mengurungkan niat empat bersaudara tersebut untuk terus mengejar cita-cita agar di masa depan memperoleh nasib yang lebih baik.

         Karena jauhnya perjalanan terkadang empat bersaudara itu terlambat masuk kelas untuk jam pelajaran pertama. Namun pihak sekolah telah mafhum akan jauhnya jarak rumah mereka dari  sekolah.

         Jetri Murni ibu dari 14 anak yang sehari-hari hanya di rumah itu pun baru saja melahirkan anak ke-14 sekitar tiga pekan lalu.

         Sebelum menetap di rumah semi permanen keluarga tersebut terlebih dahulu tinggal di sebuah gubuk atau pondok yang berdindingkan terpal dari plastik.

         Menempuh medan yang cukup berat melintasi pematang sawah yang licin rombongan harus menempuh jarak sekitar 1 hingga 1,5 kilometer dari nagari terdekat.

         Katar yang sehari-hari hanya petani itu menikah pada 1993 saat istrinya Jetri Murni baru berusia 16 tahun dan ia berumur 27 tahun.

         Dari 14 anak yang diasuhnya tersebut, merupakan putra tertua mereka Masrizal saat ini telah merantau ke Kota Pekanbaru Provinsi Riau.

         Sementara dua anak lainnya telah bekerja dan mengadu nasib sebagai penjual buah dan karyawan di sebuah toko kelontong milik warga Tionghoa di Riau.

         Katar menceritakan dari 14 anaknya hanya empat orang yang  mengenyam pendidikan Sekolah Dasar dan SLTP di daerah itu.

         "Sudah berpuluh tahun kami menetap di sini, suami saya hanya seorang petani upah dan sesekali bekerja sebagai buruh panggilan apa bila ada pekerjaan dari masyarakat sekitar," kata Jetri Murni, sambil mengendong dan menyapih anak yang baru berusia 23 hari.

         Pendapatan yang tidak tetap membuat ia dan keluarganya harus bisa menyesuaikan diri untuk bertahan hidup. Bahkan tak jarang anak-anaknya makan secukupnya.

         Keluarga besar tersebut menetap di sebuah rumah semi permanen tanpa dilengkapi dinding sehingga pada saat malam hari embusan angin malam langsung menerpa seluruh anggota keluarganya.

         "Kami terpaksa menikmati keadaan ini. Apa boleh buat keadaan serba terbatas membuat saya dan anak-anak harus lebih kuat," ujarnya.

         Tidak hanya ancaman angin malam yang sewaktu waktu dapat merusak kesehatan fisik, ancaman penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) dan malaria di daerah itu dinilai cukup berpotensi karena rumah keluarga tersebut terletak di sebuah bukit yang dikelilingi oleh hutan dan sawah.

         Saat malam hari, keluarga tersebut sesekali menggunakan mesin genset sebagai tenaga penerangan. Namun tidak selalu dinyalakan karena keterbatasan biaya untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).

         "Hanya sesekali saja kami menggunakan genset, karena biayanya terlalu mahal. Untuk satu malam saja kami menghabiskan tiga liter bensin, tinggal dikalikan per liternya saja," ujar perempuan yang juga mengidap penyakit gondok tersebut.

         Apa bila tidak menggunakan mesin genset, keluarga itu terpaksa harus menggunakan lampu dama atau "Togok" sebagai alat penerangan malam hari.

         Prihatin atas kondisi keluarga Katar, Komunitas wartawan dan kelompok Facebook Peduli Dhuafa tergerak untuk menggalang bantuan.

         Kelompok yang menamakan diri Komunitas Facebook Peduli Duafa itu, tersentuh melihat nasib dan keadaan keluarga Katar dan anak-anaknya. Mereka pun mengumpulkan dana untuk membantu mendirikan rumah layak huni bagi keluarga itu.

         Saat ini dana yang telah berhasil dikumpulkan mencapai Rp11 juta. Namun biaya tersebut masih kurang untuk mendirikan rumah layak huni yang menelan biaya hingga Rp25 juta.

         Titik Sandora (40) salah seorang anggota komunitas menilai dengan jumlah anak yang banyak dan tinggal di sudut hutan belantara harus mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak.

         "Komunitas kami telah berdiri sejak 2014 dan telah mendirikan rumah semi permanen sebanyak lima unit termasuk keluarga Katar," kata dia.

         Ia menggalang dana dari para warga net sejak 2014 hingga untuk membantu kaum dhuafa yang hingga kini telah terkumpul ratusan juta.

         Katar adalah potret nyata masih ada warga yang tengah berjuang melawan nasib menaklukan kerasnya kehidupan sehingga butuh  kepedulian dari sesama agar mendapatkan hidup yang lebih layak. (*)

Pewarta : Zulfikar
Editor :
Copyright © ANTARA 2024