Sejak dua hari terakhir Maidir (50) warga Kuranji, Padang kesulitan mencari gas elpiji tiga kilogram karena di kedai langganan di daerah Balai Baru persediaan habis.

Setelah mencari hingga ke pusat kota akhirnya ia mendapatkan  gas elpiji dengan harga Rp20 ribu per tabung lebih mahal dibandingkan harga biasa yang hanya Rp15 ribu.

"Mau bagaimana lagi kita butuh, dicari kemana-mana tidak ada, biasanya tidak pernah kosong seperti ini," katanya mengeluh.

Memasuki pekan kedua September 2016 persediaan gas elpiji tiga kilogram mengalami kelangkaan di Kota Padang. Hal ini menyebabkan masyarakat kesulitan untuk memasak.

Kalau pakai yang 12 kilogram ada tapi mahal, biasanya kami pakai elpiji tiga kilogram tahan hingga satu bulan,lanjut Maidir.

Kelangkaan gas tersebut terjadi akibat meningkatnya permintaan sehingga stok yang ada di distributor dan agen cepat habis.

Akibatnya PT Pertamina Marketing Operation Region I Sumatera bagian utara (Sumbagut) menambah pasokan elpiji ) tiga kilogram di Kota Padang sebanyak 27.440 tabung.

"Penambahan ini dilakukan guna memenuhi peningkatan konsumsi elpiji di Kota Padang," kata Area Manager Communication and Relations Pertamina Sumbagut, Fitri Erika.

Ia menyebutkan dalam kondisi  normal pada September 2016 telah disalurkan  sebanyak 546.000 tabung elpiji tiga kilogram dengan adanya penambahan  27.440 tabung  total yang didistribusikan  menjadi 573.440 tabung.

Menurutnya  mengacu kepada Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2009 konsumen elpiji tiga kilogram subsidi yang berhak menggunakannya  adalah rumah tangga dan usaha mikro.

"Maka pelayanan elpiji tiga kilogram menggunakan kartu keluarga atau identitas setempat," lanjutnya.

Sementara  berdasarkan data yang dihimpun Pemerintah Kota Padang saat ini terdapat 80 ribu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kota itu yang sebagian diantaranya bergerak pada sektor kuliner.

Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, kuliner kota Padang dikenal enak dan enak sekali di kalangan wisatawan. Ini dibuktikan dengan ditetapkannya rendang sebagai makanan terlezat di dunia versi CNN.

Tentu saja beragam usaha kuliner tersebut menjadi peluang bagi Perusahaan Gas Negara untuk mempertimbangkan Kota Padang menjadi salah satu daerah yang layak disediakan pelayanan gas.

Menurut pemilik usaha Rendang Minang Culinary Dian Anugerah untuk memasak rendang dengan citarasa terbaik salah satu rahasianya adalah dimasak dengan api kecil dalam waktu lama hingga 10 jam agar bumbu meresap sempurna.

Selama ini dalam memasak rendang dengan cara tradisional lazimnya digunakan kayu bakar khususnya kayu casiavera sehingga aroma yang dihasilkan lebih harum, katanya.

Namun kunci pengaturan rasa rendang ada pada panas dan suhu sehingga jika tidak pandai menggunakan kayu bakar rendang bisa gagal, ujar dia.

Karena keterbatasan kayu bakar ia  memilih menggunakan gas  dengan pertimbang lebih mudah didapat dan efisien.

Kalau di Kota cari kayu bakar sulit dan kalau ada mahal, memang ada yang bilang memakai gas instan, namun tetap saja keterampilan mengatur suhu.

Pakai gas lebih bersih dan ramah lingkungan, apalagi kayu sulit didapat dan polusinya tinggi, lanjut dia.

Berdasarkan pengalaman sejumlah  pengusaha rumah makan di Cirebon ternyata saat menggunakan gas dari PGN pendapatan meningkat 50 persen karena biaya operasional yang turun sebab pemakaian bahan bakar lebih hemat. hingga sebesar 50 persen.

Sementara Sekretaris Perusahaan Gas Negara (PGN) Heri Yusup mengatakan pihaknya terus mengembangkan infrastruktur gas bumi di berbagai daerah dan hingga saat ini sebanyak 78 persen infrastruktur pipa gas nasional dibangun dan dioperasikan oleh PGN.

"Komitmen PGN dalam pembangunan infrastruktur gas nasional dapat dilihat dari terus bertambahnya jaringan pipa gas bumi PGN di berbagai daerah," kata dia.

Ia menyebutkan pada akhir 2014 , panjang pipa PGN mencapai 6.161 kilometer , saat ini pipa gas PGN sudah lebih dari 7.200 kilometer . Panjang pipa gas bumi PGN ini setara dengan 78 persen pipa gas bumi hilir seluruh Indonesia.

Selain itu sejumlah proyek infrastruktur gas bumi telah selesai dibangun seperti pipa gas bumi Batam sepanjang 18,3 kilometer, kemudian di Pasuruan, Jawa Timur PGN menyelesaikan pembangunan pipa gas di ruas Kejayan-Purwosari sepanjang 15 kilometer. Lalu ada lagi ruas Jetis-Ploso sepanjang 27 kilometer, ada lagi di Kalisogo-Waru, Jawa Timur sepanjang 30 kilometer.

Saat ini PGN sedang mengebut pengembangan infrastruktur gas seperti di Bogor, Palembang, Cirebon dan banyak daerah lainnya. Termasuk penugasan dari pemerintah yakni membangun dan mengoperasikan pipa gas West Natuna Transportation ke Pulau Pemping, Kepulauan Riau.

"Semuanya dibangun PGN dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan APBN," tegas Heri.

Kemudian  PGN juga aktif membuka pengembangan wilayah baru pengguna gas bumi, walaupun PGN harus dihadapkan risiko penyerapan gas bumi di daerah baru yang belum optimal. 

"Di sinilah PGN menjalankan peran sebagai pioneering dalam membuka wilayah-wilayah baru yang belum tersentuh manfaat energi baik gas bumi, kata Heri. Semua ini dilakukan agar semakin banyak masyarakat di Indonesia yang merasakan manfaat baik dari energi gas bumi yang bersih, ramah lingkungan, aman, dan efisien dibanding bahan bakar lainnya.

Hingga saat ini PGN menyalurkan gas bumi ke lebih dari 116.600 pelanggan rumah tangga. Selain itu, 1.900 usaha kecil, mal, hotel, rumah sakit, restoran, hingga rumah makan, serta 1.580 industri berskala besar dan pembangkit listrik.

"PGN juga terus mendorong upaya diversifikasi bahan bakar kendaraan dari BBM ke bahan bakar gas. Saat ini PGN telah mengoperasikan 7 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), ke 8 SPBG mitra, dan ke 5 MRU (SPBG Mobile)," tambah Heri.

 
    

Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor :
Copyright © ANTARA 2024