Denpasar (ANTARA) - Pengamat politik Dr I Nyoman Subanda memandang penggunaan sentimen keagamaan untuk meraup suara dalam pemilu legislatif dan pemilihan kepala daerah sudah tidak ampuh lagi.
"Partai-partai politik yang ada justru saya lihat telah mengalami krisis ideologi, baik yang mengatasnamakan partai nasionalis maupun agama," katanya di Denpasar, Minggu.
Menurut dia, fenomena itu sudah terjadi baik secara nasional maupun di daerah. Kampanye hitam yang mengatasnamakan agama tidak lagi mampu menarik simpati masyarakat dan memobilisasi massa.
"Memang cara-cara politisasi agama itu sebenarnya tidak sehat bagi proses demokrasi dan bernegara dalam NKRI," katanya yang juga akademisi di Universitas Pendidikan Nasional itu.
Tidak hanya sentimen berkedok agama, lanjut dia, sentimen kedaerahan pun telah mulai memudar digunakan dalam proses perpolitikan. Salah satunya kemenangan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, walaupun dia bukan orang Betawi.
"Di Bali pun, tampak buktinya di Pilkada Buleleng. Putu Agus Suradnyana yang akhirnya menjadi bupati, sebenarnya berusaha dicari-cari kelemahannya bahwa ia tidak asli Buleleng. Ternyata sentimen kedaerahan juga tak mempan," ucapnya.
Subanda melihat yang justru paling kental dan dinilai efektif oleh parpol untuk meraup suara rakyat melalui praktik kecurangan dengan menggunakan politik uang.
"Calon anggota legislatif seringkali dipungut begitu saja tanpa proses kaderisasi dan pendidikan politik. Di sisi lain mekanisme 'recall', banyak yang tidak jalan ketika kader telah mengingkari apa yang menjadi platform partai," ucapnya.
Subanda menambahkan pemikiran pragmatis rakyat yang mau menerima uang dalam perhelatan politik sesungguhnya bisa dibelokkan jika parpol dan tokoh-tokohnya benar-benar mempunyai komitmen yang baik. (*/wij)
Pengamat: Sentimen Agama tak Ampuh dalam Pemilu
Ilustrasi
Ilustrasi