Siapa sangka sampah anorganik seperti plastik bekas yang biasa dibuang ke tempat penampungan dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif di saat harga bahan bakar minyak terus melambung.

         Inovasi Sidi Muhammad Afdal (30) warga Desa Pakasai, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat itu mampu mengubah sampah plastik menjadi minyak yang dapat diaplikasikan ke motor dan mesin lainnya.

         Teknologi yang diterapkan Afdal adalah pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) menggunakan metoda destilasi sederhana.

         Hasil proses tersebut terdiri atas bensin yang memiliki oktan tinggi dan beberapa fraksi lain dengan oktan yang lebih rendah. Bahkan dengan proses destilasi lebih lanjut, metoda tersebut juga dapat menghasilkan minyak tanah.

         Sedangkan residu atau hasil samping dari proses itu adalah berupa lilin yang juga bernilai ekonomis.

         Afdal mengungkapkan, penelitiannya dimulai pada 21 Desember 2011 dengan pemikiran bahwa pada kebanyakan benda mengandung gas metan (CH4) dan zat bakar lainnya.

         "Maka perhatian saya tertuju pada sampah plastik yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan bahan bakar yang biasanya sangat murah dimana kuantitas gas dan minyak bakarnya lebih tinggi," katanya.

         Untuk lebih memastikan, ia membuat tabung reaksi dengan ukuran 60 centimeter dan diameter 40 centimeter dengan memasukkan bahan baku sampah anorganik (plastik) sebanyak 2 kilogram.

         Selanjutnya, sampah di dalam tabung dipanaskan dengan suhu mencapai lebih kurang 400 derajat celcius. Hasil pemanasan itu mampu menghasilkan gas yang diujicobakan ke kompor gas jumbo dan dapat menyala hingga tiga jam.

         "Jika gas tersebut disalurkan untuk bahan bakar kendaraan bermotor, maka diperkirakan dapat menempuh perjalanan dengan jarak lebih kurang 300 kilometer," ungkapnya.

         Afdal mengatakan, bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan sampah plastik mulai dari kantong plastik, botol minuman kemasan, sampai ke plastik jarum suntik bekas pakai.

         Menurut dia, jika bahan baku yang digunakan berupa plastik jarum suntik, maka dapat menghasilkan bensin dengan oktan tinggi.

         Sedangkan alat yang digunakannya dalam proses penelitian itu merupakan alat rancangannya sendiri. Afdal mendesain dan merakit sendiri tabung pemanas untuk menampung sampah plastik tersebut.

         "Karena saya punya bengkel las, jadi saya bisa mendesain, merakit dan memodifikasi peralatan untuk eksperimen itu," katanya.

         Sementara untuk menyalurkan hasil pembakaran, ia menggunakan selang yang pada bagian tertentu diberi tabung pendingin berisi air. Fungsinya, agar keluaran dari hasil pemanasan sampah plastik dapat menjadi minyak dan sebagian menjadi gas.

         "Hasil pembakaran ditampung di tabung gas elpiji yang saya modifikasi sehingga dapat menampung gas dan minyak hasil olahan," katanya.

         Ia mengatakan, jika bahan baku yang digunakan pada proses pengolahan di tabung pembakaran tidak satu jenis, maka minyak yang dihasilkan pun terdiri atas minyak campuran (kompleks), yang bisa berupa bensin atau pun minyak tanah.

         Dalam proses tersebut, biaya yang dikeluarkan Afdal untuk satu kali pengolahan diluar biaya alat dan jasa hanya sekitar Rp2.000 untuk membeli kayu bakar.

 Bukan Eksperimen Pertama

    Hasil inovasi itu bukanlah eksperimen pertama yang dilakukannya terkait pemanfaatan sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif.

         Sebelumnya, pada 3 November 2011, pemuda yang hanya lulusan SMP itu melakukan eksperimen dengan mencampur Natrium Hidroksida (NaOH) dengan Air (H2O) pada sebuah botol yang ternyata menghasilkan reaksi panas.

         Setelah itu, ia memasukkan serbuk sisa potongan Aluminium (al) ke dalam botol, sehingga menghasilkan gelembung Hydrogen (H2) dan endapan Aluminium Hidroksida (alOH).

         "Saat disulut dengan api, ternyata menghasilkan menyala beberapa menit," ungkapnya.

         Eksperimen tersebut tidak sampai di sana. Ia melanjutkannya dengan melakukan percobaan pada tabung gas elpiji kosong yang dimodifikasi.

         Afdal memasukkan 1 kilogram serbuk aluminium ditambah seperempat kilogram Natrium Hidroksida (NaOH) dan ditambahkan 2 liter air. Hasil reaksi berupa gas Hydrogen itu diaplikasikan ke sepeda motor yang ternyata mampu menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer.

         Ia berkesimpulan dari eksperimen itu tidak menunjukkan penghematan bahan bakar, bahkan justru lebih mahal 10 kali dibanding penggunaan bensin.

         "Biaya eksperimen itu mencapai Rp16 ribu dengan rincian harga 1 kilogram aluminium Rp10 ribu dan seperempat kilogram Natrium Hidroksida seharga Rp6 ribu," katanya.

         Tidak terhenti di situ, pada 20 November 2011 Afdal terus melakukan eksperimen lain dengan mencampur Asam Sulfat (H2SO4) dengan Seng (Zn). Hasil eksperimen tersebut juga dapat menghasilkan Hydrogen tapi tetap membutuhkan biaya yang relatif mahal.

         Hingga kemudian ia menemukan ide untuk memanfaatkan sampah anorganik berupa plastik. Afdal tetap "ngotot" untuk berinovasi dan menghasilkan alternatif anergi yang murah dan berdampak positif terhadap lingkungan.

         Inovasi tersebut tentunya sangat berguna, bukan saja sebagai energi alternatif, namun juga berdampak positif untuk mengurangi tumpukan sampah di lingkungan sekitar.

         Afdal mengatakan, jika produksi sampah organik dan anorganik di Kota Pariaman mencapai 50 kubik per hari, maka sampah organik dapat diolah menjadi kompos dan sampah anorganik yang tidak terkelola dapat diolah menjadi bahan bakar.

         Baik dampaknya terhadap ekonomi maupun kelestarian lingkungan, hasil penemuan Afdal tersebut memang harus melewati uji laboratorium sehingga dapat dipastikan tingkat keamanan dari sisi pengguna maupun terhadap lingkungan sekitar. 

 Uji Laboratorium

    BBM yang dihasilkan dari sampah hasil inovasi Afdal kini masih dalam proses uji laboratorium oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pariaman.

         Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pariaman Definal mengatakan, pengujian laboratorium terhadap eksperimen yang dilakukan Afdal, diuji mulai dari tingkat keamanan, baik bagi pengguna maupun lingkungan sekitar hingga nilai ekonomis yang dihasilkan.

         "Jika penemuan Afdal itu terbukti berdampak positif baik dari segi ekonomis dan pelestarian lingkungan, Pemkot Pariaman berencana akan mengembangkannya," katanya. 

    Ia menilai penemuan tersebut sangat bagus, khususnya untuk mengurangi produksi sampah di wilayah Kota Pariaman yang mencapai 50 kubik per hari.

         Ia menyebutkan, di Pariaman terdapat lima Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang biasanya digunakan sebagai lokasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

         Dari eksperimen Afdal tersebut, BLH Pariaman akan membuat proyek percontohan di TPST Pasar Produksi Desa Jati  untuk penelitian lebih mendalam, dari segi penggunaan dan pengadaan bahan baku, alat destilasi yang digunakan, minyak yang dihasilkan, hingga hasil samping/ residu seperti lilin.

    "Jika penelitian itu berhasil, maka Pemkot Pariaman berencana menerapkan pengelolaan sampah menjadi energi alternatif di setiap TPST," katanya.

    Ia menambahkan, melalui itu juga, volume sampah di TPS Tungka Selatan Pariaman yang mencapai 50 kubik per hari, bisa dikurangi dan diharapkan dapat menghemat APBD untuk alokasi  pembuangan sampah di Kota Pariaman. (*)


Pewarta : Rudrik Syaputra
Editor :
Copyright © ANTARA 2024