Jakarta, (Antara) - Pemudik di Terminal Kalideres Jakarta Barat kerap kedapatan terkena penyakit diare karena mengonsumsi makanan yang tidak terjaga kebersihannya dalam perjalanan menuju kampung halaman atau kembali ke kota asal, kata Dokter Palang Merah Indonesia (PMI) Inggrid. "Ada beberapa macam penyakit yang sering diderita pemudik, dan salah satu yang terbanyak yakni diare," kata Inggrid yang dijumpai di Pos Layanan Kesehatan Palang Merah Indonesia (PMI) Terminal Kalideres, Jakarta, Kamis. Ia mengemukakan para pemudik terkena diare karena makanan yang dicerna mengandung bakteri, virus atau parasit. Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus halus sehingga makanan yang dikonsumsi tersebut langsung masuk ke usus besar. Makanan yang tidak dicerna itu pada akhirnya akan menarik air dari dinding usus. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare. "Gejalanya selain sering buang air besar juga muntah, lesu, dan kurang nafsu makan," kata dia. Ia menambahkan, selain karena bakteri, diare juga dapat disebabkan alergi terhadap makanan atau obat tertentu. "Penyakit ini harus segera diobati karena penderita yang banyak kehilangan cairan akan membuat daya tahan tubuh menurun sehingga bisa terkena penyakit lain," kata alumni Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida). Ia menerangkan, untuk menanggulanginya, petugas PMI akan diberikan obat serta vitamin. Sementara, bagi pemudik yang kondisi tubuhnya sangat lemah maka diizinkan beristirahat di posko sembari menunggu jadwal keberangkatan. "Dalam satu hari, Posko menerima penderita diare tiga hingga lima orang, selebihnya merupakan penderita hipertensi, dan kelelahan karena perjalanan darat selama kurang lebih 19 jam," ujar dia. Sebanyak tiga orang relawan, seorang dokter, dan seorang pengemudi bersiaga di Posko Kesehatan PMI Terminal Kalideres. Posko dengan penutup tenda itu ditempatkan PMI Jakarta Barat di kawasan taman terminal untuk memberikan pelayanan secara gratis kepada pemudik, 21 Juli-4 Agustus 2014. (*/jno)

Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026