Jakarta, (Antara) - Jumlah dokter spesialis penyakit kanker di Indonesia masih terbatas karena rendahnya minat tenaga medik mendalami bidang ilmu tersebut, kata Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) DKI Jakarta Ronald A Hukom. "Penyakit kanker ini berbeda dengan penyakit lain, sangat kompleks dan penanganannya tidak mudah. Bisa jadi, hal ini yang membuat dokter kurang tertarik," kata Ronald di Jakarta, Kamis, ketika ditanya mengenai ketersediaan jumlah tenaga medis untuk menanggani penyakit kanker. Dia mengemukakan, dari segi kualitas, dokter di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara berkembang lainnya. Meski, mereka sebagian besar lulusan universitas dalam negeri namun sudah bisa diandalkan untuk menyembuhkan pasien dalam stadium satu hingga dua. "Untuk stadium lanjut yakni stadium tiga dan empat, masih perlu ditingkatkan lagi kemampuannya karena memang tidak mudah," ujar dokter di RS Kanker Dharmais ini. Untuk itu, Perhompedin senantiasa mendorong dokter spesialis kanker meningkatkan kemampuan dengan belajar ke universitas di luar negeri. Menurut dia, kebutuhan terhadap tenaga medis berstandar internasional itu semakin dibutuhkan karena kasus kanker yang ditemukan sebagian besar telah stadium lanjut. Selain itu, pihaknya juga mendorong pemerintah untuk memperbaiki dan menambah fasilitas penanganan kanker di rumah sakit. "Syarat utama penangganan kanker yakni harus ada laboratorium patologi dan faktanya belum setiap provinsi memiliki malah tidak sampai sepertiga. Begitu pula dengan ketersedian ahli bedah, ahli radiotherapi, dan dokter penyakit yang harus ada bagi rumah sakit yang bukan rumah sakit kanker," ujar dia. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2012 menyebutkan, prevalensi kanker mencapai 4,3 banding 1.000 orang dari 1 banding 1.000 orang. (*/jno)

Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026