Logo Header Antaranews Sumbar

Pabrik Ajinomoto Targetkan Pendapatan 3.000.000 Dolar AS

Rabu, 30 April 2014 16:07 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Pabrik baru penghasil bahan baku kosmetik milik PT Lautan Ajinomoto Fine Ingredients (LAFI) yang terletak di kawasan industri Greenland Batavia Kota Deltamas, Cikarang, menargetkan pendapatan (revenue) sebesar tiga juta dolar AS. "Target 'revenue' PT LAFI melalui pabrik baru ini adalah tiga juta dolar AS," kata Presiden Direktur PT LAFI Tatsuya Hattori di Bekasi, Rabu. Pabrik baru Ajinomoto itu memproduksi bahan baku asam amino untuk kosmetik dan produk perawatan pribadi, seperti kosmetik, shampo, dan sabun. Berdasarkan pernyataan resmi dari Ajinomoto Group, pengoperasian pabrik bahan baku kosmetik ini dioperasikan melalui PT Lautan Ajinomoto Fine Ingredients (LAFI), yang merupakan perusahaan patungan antara Ajinomoto Co. dengan PT Lautan Luas Tbk (LTLS) yang didirikan pada Maret 2013 lalu. Tatsuya menjelaskan, pabrik tersebut mengolah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan gula tebu menjadi asam amino yang kemudian diolah kembali menjadi produk bahan baku kosmetik, yaitu amisoft dan amilite. "Pabrik ini memiliki kapasitas produksi amisoft dan amilite 3.350 ton per tahun. Kami mulai melakukan produksi sejak Maret 2014. Dan kedua produk ini di bawah hak paten Ajinomoto," ujarnya. Ia mengaku optimistis PT LAFI akan dapat memasarkan kedua bahan baku kosmetik yang pertama kali diproduksi di Indonesia itu kepada industri kosmetik dan produk perawatan kulit di Tanah Air. Menurut dia, dari total produksi 3.350 ton per tahun itu, 90 persen hasil produksi akan diekspor ke luar negeri, sedangkan 10 persen sisanya akan dipasarkan untuk industri kosmetik domestik. "Saya tentu berharap perusahaan industri kosmetik dalam negeri (di Indonesia) akan menggunakan produk kami," katanya. Adapun strategi pemasaran secara global dari produk PT LAFI itu akan mengikuti atau dibantu oleh Ajinomoto Group yang memang sudah lama berkiprah di pasar global. Sementara itu, untuk pemasaran di Indonesia akan dilakukan oleh PT Lautan Luas. Menurut Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam, banyaknya industri kosmetika di Tanah Air mulai berdampak pada peningkatan kebutuhan akan bahan baku untuk produk kosmetik. "Kita butuh kerjasama seperti ini karena bahan baku kimia yang harus diimpor selama ini mencapai 15 miliar dolar AS, padahal yang diekspor hanya sebesar enam miliar dolar AS. Sehingga kita perlu hilirisasi industri, menghasilkan sendiri bahan baku untuk industri kosmetik dalam negeri," kata Khayam. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026