Logo Header Antaranews Sumbar

Produksi Minyak Harus Didongrak untuk Perbaikan Ekonomi

Kamis, 13 Februari 2014 20:16 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan produksi minyak mentah (crude oil) harus didongkrak untuk perbaikan ekonomi karena kaitannya yang sangat signifikan. "Lifting minyak mentah Indonesia semakin jatuh. Ini akan menyebabkan sumber penerimaan hilang dan semakin banyak impor minyak yang dampaknya ke neraca perdagangan," kata Askolani, dalam acara Diskusi Panel EOR III BKKPII-AITMI 2014 "Partisipasi Industri Kimia Nasional dalam Mendukung Era EOR untuk Ketahanan Energi", di Gedung Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis. "Kita bayangkan ke depan tidak ada minyak lagi, tapi konsumsi BBM semakin meningkat. Bukannya dapat uang, malah menghabiskan uang dan ganggu cadangan devisa negara," tambahnya. Askolani menambahkan produksi minyak mentah selain pendapatannya masuk APBN, juga menyerap tenaga kerja. Ia memaparkan saat ini lifting minyak mentah semakin turun dari 860 ribu barrel per hari pada 2013 menjadi 804 barrel tahun ini. "Kekayaan lifting semakin turun, kalau tidak ada temuan baru 10-15 tahun ke depan minyak kita akan habis. Oleh karena itu harus meningkatkan lifting migas," ujarnya. Ia menjelaskan lifting minyak dipakai untuk dua pos yakni BBM yang diolah di dalam negeri dan ekspor. "Lifting semakin jatuh, dari 2010 sudah negatif. Ini menjadi masalah ke depan. Di sisi lain konsumsi BBM makin meningkat dari 40 juta kilo liter, 45 juta kilo liter, 46 juta kilo liter, 48-49 kilo liter juta tahun ini," kata Askolani. Menurutnya, teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi salah satu upaya untuk mengatasi lifting minyak yang terus menurun. Teknologi EOR merupakan metode pengurasan minyak tingkat lanjut untuk mengoptimalkan produksi sebuah lapangan migas. Selain dengan teknologi EOR, lanjut Askolani, untuk menekan konsumsi energi yang berlebihan juga harus ditekan dengan penyesuaian harga BBM. "Penyesuaian harga untuk meningkatkan publik kalau minyak tidak bisa diciptakan. Kita betulkan kebijakan tarif listrik dan BBM, maka penghematan ini dukung investasi ke energi, bbm ke gas, dan lain-lain. Uang kita habis untuk subsidi. Harus ada 'effort' yang sistematis untuk mendukung ini," jelasnya. "Kita lihat, kalau tahun 2013 tidak ada kenaikan BBM, volume konsumsi BBM dari 2010-2011 tambahan 4 juta kilo liter tapi saat harga naik pada Juli 2013, tambahannya hanya 2 juta kilo liter (target 48 juta kilo liter 2013)," tambahnya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026