Logo Header Antaranews Sumbar

Perabotan serba ungu cara penyintas meriahkan Lebaran di huntara Agam

Kamis, 19 Maret 2026 16:14 WIB
Image Print
Anak salah satu penyintas bencana menunjukkan koleksi toples untuk kue Lebaran yang berwarna ungu di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (19/3/2026). (ANTARA/Kuntum Khaira Riswan.)

Lubukbasung (ANTARA) - Perabotan serba ungu menjadi upaya salah satu penyintas bencana banjir di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Agam, untuk menambah kemeriahan Lebaran di hunian sementara (huntara).

Di ruang terbatas berukuran sekitar 3x6 meter itu Yeni berupaya menciptakan suasana yang lebih hangat untuk dia dan anak-anaknya jelang Lebaran. Warna ungu yang merupakan favoritnya dipilih untuk membantu memperbaiki suasana hati di tengah kondisi serba terbatas.

“Dulunya ungu warna kesukaan, kebetulan tempat kita kecil, bisa lah (warna ungu) untuk menyenangkan suasana hati. Jadi dibeli lah semua ini, senang, walaupun rumahnya kecil tapi bisa menikmatinya, senang juga rumah rapi,” kata Yeni ditemui Kamis.

Sejak menempati huntara pada pertengahan Januari 2026, Yeni telah merencanakan penggunaan warna ungu sebagai tema utama perabotan. Keterbatasan fasilitas membuatnya harus membeli perlengkapan rumah tangga baru secara bertahap, yang kemudian disesuaikan dengan warna pilihan tersebut.

Ia bahkan sengaja menyusuri sejumlah pasar untuk mencari peralatan makan seperti piring, gelas, teko, hingga perlengkapan dapur lain seperti tempat bumbu dan panci dalam berbagai ukuran, semuanya bernuansa ungu.

Menjelang Lebaran ia menambah koleksi dengan toples, bunga artifisial, serta stiker kulkas yang dibeli melalui e-commerce.

“Khusus Lebaran ini beli toples-toples. Terus ada bunga-bunga yang di atas kulkas, yang di meja yang uni sebut meja tamu lah istilahnya. Ada pula stiker kulkas, belinya di pesan (di e-commerce),” tambahnya.

Bagi Yeni, Lebaran 2026 ini terasa berat karena bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 tidak hanya merusak rumahnya, tetapi juga merenggut nyawa kakak laki-lakinya.

Ia pun mengenang kakak laki-lakinya yang berusia lebih dari 60an itu sebagai sosok kakak paling baik kepada dirinya dan juga anak bungsunya yang baru berusia lima tahun.

“Kalau ditanya-tanya soal kejadian ya gini jadinya, teringat lagi, sedih. Makanya beli perabot warna kesukaan biar dialihkan lah, kita stres, semacam trauma healing pula,” ucap Yeni sambil mengusap air matanya.

Bagian depan rumahnya juga rusak akibat dihantam kayu berukuran besar yang terbawa oleh aliran irigasi yang tiba-tiba meluap. Begitu juga dengan dapurnya yang sebagian menunjukkan tanda pelapukan akibat terendam lumpur untuk waktu yang cukup lama.

Bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir dan angin puting beliung melanda Agam pada akhir November 2025, mengakibatkan 165 orang meninggal dunia.

Korban terbanyak berasal dari Kecamatan Palembayan dengan 136 orang meninggal. Seluruh warga yang rumahnya berada di zona merah, dilarang tinggal di rumah lama dan dievakuasi ke huntara terdekat atau mencari tumpangan di rumah saudara.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026