
Puasa dalam bingkai kepentingan terbaik anak

Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa puasa pada anak usia remaja yang sehat umumnya tidak berdampak signifikan terhadap fungsi kognitif, seperti konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Meskipun demikian, temuan tersebut tetap mensyaratkan kondisi kesehatan yang baik serta asupan nutrisi yang memadai saat sahur dan berbuka. Artinya, puasa bukan hanya soal niat dan ketahanan, tetapi juga soal tanggung jawab orang tua memastikan kebutuhan gizi terpenuhi.
Di sinilah letak pentingnya perspektif kepentingan terbaik anak. Mengajarkan puasa tidak boleh berhenti pada aspek ritual menahan lapar dan haus. Ia harus menjadi proses pendidikan karakter yang utuh: mengajarkan kesabaran tanpa memicu trauma, membangun disiplin tanpa menghadirkan ketakutan, serta menumbuhkan empati tanpa menciptakan rasa bersalah.
Ramadhan justru membuka peluang besar untuk memperkuat relasi keluarga. Sahur bersama dapat menjadi ruang dialog hangat. Berbuka puasa bisa menjadi momen refleksi tentang rasa syukur. Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan berbagi kepada sesama agar memahami makna solidaritas sosial. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, pengalaman berpuasa akan menjadi kenangan spiritual yang membahagiakan.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juga menegaskan kewajiban orang tua untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak serta menumbuhkembangkan anak sesuai kemampuan, bakat, dan minatnya. Ketentuan ini mempertegas bahwa pendidikan agama, termasuk pengenalan puasa, harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi individual setiap anak.
Puasa sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Namun bagi anak, latihan itu membutuhkan pendampingan, keteladanan, dan empati. Anak belajar bukan dari instruksi semata, tetapi dari atmosfer yang dibangun di rumah. Jika puasa diperkenalkan sebagai pengalaman yang penuh makna dan kasih sayang, maka ia akan tumbuh sebagai fondasi spiritual yang kuat.
Sebaliknya, jika dikenalkan melalui tekanan dan perbandingan, ia bisa meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan.
Dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia, pembentukan karakter sejak dini adalah investasi jangka panjang. Ramadhan menyediakan ruang pendidikan yang sangat kaya: pendidikan kesabaran, kepedulian sosial, pengelolaan emosi, dan kedisiplinan. Semua itu, hanya akan efektif jika diletakkan dalam bingkai hak anak.
Pada akhirnya, mengajarkan puasa kepada anak bukan sekadar mempersiapkan mereka menjalankan kewajiban agama di masa depan. Ia adalah proses membimbing mereka memahami nilai-nilai kemanusiaan dengan cara yang menghormati martabat dan perkembangan mereka.
Ramadhan yang ramah anak bukanlah Ramadhan yang membebaskan anak dari pembelajaran, melainkan Ramadhan yang menghadirkan pembelajaran dalam suasana aman, penuh cinta, dan menghargai kapasitas mereka.
Karena pada diri anaklah masa depan bangsa dititipkan. Dan pada cara kita membimbing merekalah, nilai-nilai spiritual akan menemukan makna terdalamnya.
*) Fakih Usman adalah Inspektur Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA)
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mengajarkan puasa dalam bingkai kepentingan terbaik anak
Pewarta: Fakih Usman *)
Editor: Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
