Logo Header Antaranews Sumbar

BPOM terbitkan 20 ribu izin edar jamu dan mendapat pengakuan dunia

Jumat, 6 Februari 2026 13:10 WIB
Image Print
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar memberikan kuliah umum di Universitas Andalas, Jumat (6/2/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

Padang (ANTARA) - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menyebutkan lembaga tersebut hingga kini telah mengeluarkan sekitar 20 ribu izin edar khusus untuk berbagai macam jenis produk jamu, bahkan telah banyak mendapatkan pengakuan dunia.

"Kami sudah mengeluarkan 20 ribu izin edar khusus untuk jamu. Ini berarti jamu Indonesia banyak sekali dan sudah diakui dunia," kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat, Jumat.

Taruna Ikrar mengatakan kondisi tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki peluang yang besar agar produk-produk jamu buatan Indonesia bisa semakin mendunia dan memberikan kontribusi signifikan terhadap aspek kesehatan.

"Jadi Indonesia punya jamu terbesar di dunia," ucapnya.

Kepala BPOM menegaskan potensi yang ada tersebut hendaknya diamplifikasi. Dengan kata lain, lanjut dia, peluang ini harus diperluas atau ditingkatkan, meskipun hanya produk lokal tetapi dapat memberikan pengaruh secara global.

Hal tersebut, kata dia, sama halnya dengan produk lokal lainnya, seperti rendang dan rempah-rempah, yang memiliki potensi besar dan keunggulan sehingga dapat mendongkrak produk Indonesia menembus pasar internasional.

Bahkan khusus rendang yang merupakan masakan atau kuliner khas Minangkabau meraih peringkat pertama pada 2025 sebagai hidangan kelapa terbaik di dunia berdasarkan platform TasteAtlas. Hal ini sekaligus menandakan pengakuan dunia atas potensi Nusantara.

"Ini potensi besar, sehingga bisa pula ke depannya dibuat center of excellent rendang atau semacamnya," ujar Taruna Ikrar.

Sementara untuk rempah, kata dia, sebagaimana diketahui telah menjadi produk unggulan sejak ratusan tahun lalu. Bahkan dulunya Indonesia diperebutkan bukan karena minyak bumi, melainkan karena rempah-rempahnya.

Pada saat bersamaan BPOM terus berupaya menyelesaikan segala permasalahan terkait rempah di Tanah Air, agar tetap menjadi produk unggulan yang dapat memberikan dampak, sekaligus memberikan kontribusi maupun jangkauan pasar yang lebih luas.

"Kami sempat khawatir saat BPOM Amerika menemukan kandungan zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada cengkeh yang dikirim dari Indonesia beberapa waktu lalu. Namun kami sudah menyelesaikan segala permasalahannya, sehingga rempah itu sudah tidak bermasalah lagi," ucap Kepala BPOM Taruna Ikrar.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kepala BPOM potensi rempah dan kuliner Indonesia di pasar dunia



Pewarta :
Editor: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026