Logo Header Antaranews Sumbar

Nato Beri Masukan Untuk Kesepakatan Misil Turki-China

Rabu, 23 Oktober 2013 12:35 WIB
Image Print

Brussels, (Antara/AFP) - Pimpinan NATO, Selasa, mengatakan jika ia berharap Turki tetap mengingat pendapat aliansi militer saat mempertimbangkan kesepakatan pertahanan misil dengan China. Anders Fogh Rasmussen mengatakan jika sebagai anggota NATO, Turki, bisa membeli peralatan dari manapun. Ia menyampaikan hal itu setelah Ankara meningkatkan kemungkinannya untuk menerima tawaran China guna membangun sistem anti-peluru kendali (misil) jarak jauhnya yang pertama. "Posisi kami sangat jelas. Ini keputusan nasional untuk menentukan peralatan mana yang akan dibeli," kata Rasmussen dalam konferensi pers di penutupan hari pertama dari pertemuan dua hari para menteri pertahanan NATO . "Namun, dilihat dari perspektif NATO, sangat penting jika rencana sistem nasional yang akan diadopsi itu dapat berfungsi dan beroperasi bersama-sama dengan sistem serupa di negara-negara Sekutu lainnya, " katanya. "Saya merasa yakin Turki menyadari posisi NATO ini dan ... akan mempertimbangkan itu sebelum mengambil keputusan akhir. " Menteri Pertahanan Turki Ismet Yilmaz mengatakan kepada surat kabar Vatan awal bulan ini jika China telah menawarkan harga terbaik. Sebuah perusahaan China memenangkan tender dari kemitraan AS Raytheon dan Lockheed Martin, Rosoboronexport Rusia, dan konsorsium Italia-Prancis Eurosamrs untuk sebuah kesepakatan senilai sekitar 4 miliar dolar. Anggota NATO, Turki, adalah sekutu regional utama Amerika Serikat dan saat ini telah memiliki sistem rudal Patriot AS yang ditempatkan di perbatasan untuk mencegah serangan dari Suriah . Rasmussen mengatakan menteri dari 28 negara anggota telah membahas pertahanan peluru kendali terhadap serangan dari luar kawasan Euro-Atlantik, sebuah acuan yang di masa lalu diartikan sebagai Iran meskipun sekretaris jenderal itu tidak menyebut satu negara pun. Langkah berikutnya dalam sistem pertahanan misil akan berupa "terobosan untuk sistem Aegis" di Rumania pada akhir Oktober," katanya. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu tampaknya akan mengangkat isu itu pada Rabu ketika ia bertemu rekan-rekan NATO-nya di Dewan NATO-Rusia. Rasmussen mengatakan para menteri juga membahas peningkatan kerjasama, sebuah langkah yang diperlukan untuk mengimbangi dampak dari anggaran militer yang semakin ketat, dan peningkatan latihan skala besar . (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026