Logo Header Antaranews Sumbar

KFA Bela Kelompok "Setan Merah"

Rabu, 31 Juli 2013 16:36 WIB
Image Print

Singapura, (Antara/Reuters) - Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) membela kelompok pendukung tim sepak bola "Setan Merah" perihal aksi kelompok tersebut yang membentangkan spanduk bermuatan politis pada pertandingan Piala Asia Timur melawan Jepang pada Minggu, dan berkata bahwa para pendukung Jepang telah memicu masalah dengan mengibarkan bendera "matahari terbit." Para pendukung Korsel membentangkan spanduk di stadion Jamsil yang berbunyi, "Negara yang melupakan sejarahnya tidak memiliki masa depan," yang terlihat mengacu pada kegeraman sebagian warga Korsel terhadap keengganan Jepang mengakui kejahatannya di masa perang dan kolonial. Asosiasi Sepak Bola Jepang mengajukan keluhan terhadap insiden Minggu itu, di mana Ketua Sekretaris Kabinet Tokyo Yoshihided Suga menyebut hal tersebut sebagai "sangat disayangkan." Hakubun Shimomura, menteri olahraga Jepang, seperti dikutip Kyodo News berkata, "Itu menimbulkan pertanyaan mengenai tabiat orang-orang di negara itu." Bagaimanapun, KFA berpendapat bahwa para pendukung Jepang juga turut andil dalam peristiwa itu. "Bendera matahari terbit mengingatkan pada sejarah menyakitkan Korea Selatan," kata KFA dalam pernyataannya kepada Federasi Sepak Bola Asia Timur pada Rabu. "Ini semua diawali karena para pendukung Jepang mengibarkan bendera (matahari terbit) setelah pertandingan dimulai, yang memicu para pendukung Korea Selatan." Bendera matahari terbit, dengan 16 garis yang terpancar dari matahari merah dengan latar belakang putih, dipandang banyak warga Asia sebagai simbol militerisme Tokyo pada masa perang. Banyak pelabuhan Korsel yang memiliki kenangan pahit pada masa kolonialisasi Jepang di 1910-1945, meski Tokyo berkata pihaknya telah menyelesaikan semua kewajibannya dan meminta maaf. "Boikot mendukung" KFA berkata bahwa mereka "sangat kecewa dengan beberapa anggota senior pemerintahan Jepang yang mencela Korsel." "Mereka sebaiknya berhenti hanya mengkritik apa yang dilakukan Korsel sambil mengabaikan fakta bahwa para pendukung Jepang mengibarkan bendera matahari terbit di tengah ibukota Korsel." KFA awalnya membujuk "Setan Merah" untuk menurunkan spanduk itu sebelum pertandingan, namun ketika para pendukung Jepang mengibarkan bendera matahari terbit, para pendukung Korsel meresponnya dengan kembali membentangkan spanduk mereka, yang terdapat di beberapa sektor di belakang salah satu gawang. KFA kembali melakukan intervensi untuk menurunkan spanduk itu, yang memicu Setan Merah melakukan "boikot mendukung," dengan tetap diam tidak bersuara sampai akhir pertandingan. Jepang memenangi pertandingan itu dengan skor 2-1 untuk menjadi juara turnamen, yang juga diikuti oleh Australia dan China. "KFA berusaha melakukan upaya terbaik untuk memecahkan masalah secepat mungkin setelah hal itu timbul, dan kami bahkan menerima protes keras dari 'Setan Merah', kami berusaha melindungi kemurnian sepak bola," demikian pernyataan mereka. Bendera matahari terbit juga memicu amarah dari Setan Merah pada April, ketika klub Jepang urawa Reds menjamu klub Korsel Jeonbuk Hyundai di pertandingan Liga Champions Asia. Saat itu Setan Merah berkata bahwa jika mereka tidak menerima permintaan maaf, maka keselamatan para pendukung Jepang tidak dapat dijamin sepanjang Piala Asia Timur. Kedua negara juga berada di pusat perselisihan diplomatik pada Olimpiade London 2012 ketika seorang pemain Korsel memperlihatkan poster yang mengacu pada pertikaian teritorial saat sedang merayakan kemenangan timnya atas Jepang pada pertandingan perebutan medali perunggu. Park Jong Woo, yang mengangkat poster bertuliskan "Dokdo adalah teritorial kami," yang didapatnya dari seorang penggemar, terpaksa melewatkan upacara pemberian medali dan belakangan didenda FIFA sebesar 3.800 dolar dan dilarang bermain pada dua pertandingan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026