
Korut Tidak akan Undang Tokoh AS Terkait Tahanan

Seoul, (Antara/AFP) - Korea Utara, Ahad, mengatakan tidak akan mengundang tokoh-tokoh terkemuka Amerika Serikat untuk mengupayakan pembebasan seorang warga negara Amerika Serikat yang dipenjarakan dan yang bersangkutan tidak akan menjadi "alat tawar-menawar" dalam perundingan politik. "Beberapa media Amerika Serikat mengatakan bahwa DPRK (Korea Utara) berusaha menggunakan kasus Pae sebagai alat tawar-menawar politik. Ini adalah dugaan yang konyol dan salah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri kepada kantor berita resmi KCNA. "DPRK tidak memiliki rencana untuk mengundang siapa pun dari Amerika Serikat dalam hal kasus Pae itu." Korea Utara, Kamis, mengatakan pihaknya telah menghukum Pae, yang dikenal di Amerika Serikat sebagai Kenneth Bae, dengan kerja keras selama 15 tahun atas "tindakan bermusuhan" yang bertujuan untuk menggulingkan rezim komunis dalam sidang pengadilan pada 30 April. Operator tur warga Amerika Serikat keturunan Korea itu ditangkap pada bulan November saat memasuki kota di pelabuhan timur laut, Kota Rason. Beberapa warga Amerika Serikat telah ditahan di Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir, dan telah dibebaskan setelah kunjungan sejumlah tokoh tingkat tinggi Amerika Serikat seperti mantan presiden Jimmy Carter dan Bill Clinton. Pada tahun 2010 Carter merundingkan pembebasan warga negara Amerika Serikat Aijalon Mahli Gomes, yang dijatuhi hukuman kerja paksa delapan tahun karena memasuki negara itu secara ilegal. Pada tahun 2009, Clinton berhasil membebaskan wartawan televisi Amerika Serikat Laura Ling dan Euna Lee, yang juga dipenjara karena memasuki negara itu secara ilegal. Juru bicara kementerian luar negeri itu mengatakan Pyongyang telah menunjukkan "kemurahan hati ... dari sudut pandang kemanusiaan" di masa lalu, tetapi kasus terbaru membuktikan bahwa kemurahan hati tersebut tidak akan "ada gunanya dalam mengakhiri tindakan ilegal warga Amerika Serikat". "Selama kebijakan bermusuhan Amerika Serikat maka tindakan ilegal warga Amerika Serikat harus dilawan dengan sanksi hukum yang tegas. Ini adalah kesimpulan yang diambil oleh DPRK." Perkembangan terbaru itu terjadi di tengah-tengah ketegangan militer tinggi di Semenanjung itu. Pyongyang yang marah atas penjatuhan sanksi baru Perserikatan Bangsa Bangsa untuk uji coba ketiga nuklirnya pada bulan Februari dan latihan militer gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan, telah mengeluarkan sejumlah ancaman serangan peluru kendali dan nuklir yang ditujukan bagi Korea Selatan dan Amerika Serikat. Amerika Serikat telah menyerukan pembebasan segera Bae, yang tuntutan kejahatannya tidak jelas. Aktivis yang berbasis di Seoul, Do Hee-Yoon, mengatakan ia menduga Bae ditangkap karena dia telah mengambil foto-foto anak-anak kurus di Korea Utara sebagai bagian dari upaya untuk menarik lebih banyak bantuan dari luar. Juru bicara Korea Utara, Minggu, mengatakan bahwa pemeriksaan pada barang-barang Bae menegaskan kejahatan yang dilakukannya namun tidak menjelaskan lebih lanjut. "Ia masuk DPRK dengan cara menyamarkan identitas dan secara sengaja memanipulasi untuk memusuhi DPRK," kata juru bicara itu, menambahkan bahwa yang bersangkutan telah membuat pengakuan. (*/wij)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
