
Penanganan FBI Atas Tersangka Pembom Boston Diselidiki

Washington, (Antara/Reuters) - Anggota parlemen Amerika Serikat, Minggu, mempertanyakan kegagalan Biro Investigasi Federal(FBI) menemukan bahaya dari tersangka pembom di Boston, dan mengeluhkan itu adalah salah satu dari serangkaian perkara seseorang diselidiki badan itu kemudian ikut dalam serangan. Ketua Panitia Keamanan Dalam Negeri DPR Michael McCaul menulis kepada FBI dan pejabat lain mempertanyakan mengapa Tamerlan Tsarnaev tidak menimbulkan kecurigaan sesudah Rusia minta FBI menyelidikinya pada dua tahun lalu. "Karena kalau ia berada di radar dan mereka membiarkan dia pergi, ia ada di radar Rusia. Mengapa tak ada bendera baginya, semacam bendera 'biasa'?," kata McCaul, Republiken Teksas, pada acara "State of teh union" CNN, "Saya juga ingin tahu apa yang sandi Rusia miliki tentang dirinya." FBI mewawancarai Tsarnaev, kakak dari dua bersaudara suku Chechnya tersangka dalam pemboman Boston, pada 2011 tak lama sesudah Dinas Keamanan Pusat Rusia minta badan itu menyelidikinya sebagai kemungkinan penganut garis keras, yang mungkin segera ke Rusia. Saat ditanya pada Minggu tentang keprihatinan anggota parlemen, FBI menyatakan tidak memiliki tangapan lebih lanjut dari pernyataan dikeluarkan pada Jumat malam ketika mengatakan "tidak menemukan kegiatan teror apa pun, dalam atau luar negeri" setelah berbicara dengan Tsarnaev dan memeriksa catatan perjalanan serta kegiatan Internet-nya. Kurang dari setahun setelah wawancara FBI itu, Tsarnaev melakukan perjalanan ke wilayah genting Dagestan di Rusia selatan dalam perjalanan enam bulan keluar Amerika Serikat. Banyak dari yang Tsarnaev lakukan di perjalanan itu masih menjadi tanda tanya bagi penyelidik Amerika Serikat. Tetangga, yang dihubungi Reuters, menyatakan Tsarnaev menghabiskan sedikit-dikitnya beberapa sepekan di Dagestan, wilayah di pegunungan Kaukasus Utara, tempat pegaris keras lama menjadi duri bagi pemerintah di Moskow. Anggota DPR dari Republiken Peter King dari New York kepada "Fox News Sunday" menyatakan bertanya-tanya mengapa FBI tidak mengambil tindakan lebih setelah Tsarnaev kembali ke Amerika Serikat pada tahun lalu dan membuat pernyataan di lamannya "berbicara tentang imam radikal". Tamerlan Tsarnaev tidak ditempatkan pada setiap daftar larangan terbang bagi tersangka teroris, kata pejabat Amerika Serikat. Tapi, hubungannya dengan FBI meningkatkan kekhawatiran ketika ia mendaftar untuk kewarganegaraan negara adidaya itu pada tahun lalu, kata sumber dekat dengan penyelidikan pemboman tersebut. Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri memutuskan memberikan pengawasan lebih karena wawancara FBI itu dan tuduhan terhadapnya tentang kekerasan dalam rumah tangga pada pacarnya pada 2009, kata sumber itu. Pendaftaran kewarganegaraan itu masih dalam pertimbangan ketika pemboman pada Senin tersebut terjadi. Tamerlan Tsarnaev tewas dalam bakutembak dengan polisi Amerika Serikat dan adiknya, Dzhokhar (19 tahun), dirawat dalam keadan gawat pada Minggu, tidak dapat berbicara. Tiga orang tewas dan 176 luka akibat pemboman tersebut. Senator Republiken Lindsey Graham dari Carolina Selatan menyatakan "FBI atau pranata menjatuhkan bola" pada Tsarnaev sulung. Graham kepada CNN menyatakan hukum Amerika Serikat tidak mengizinkan FBI menindaklanjuti, bahkan jika menemukan bahaya. Senator Demokrat Charles Schumer dari New York kepada CNN menyatakan "pasti banyak pertanyaan" tentang penanganan FBI atas perkara itu. Pejabat kontra-terorisme Amerika Serikat mendesakkan perspektif. "Jika kita menyelidiki secara menyeluruh setiap orang dari pelaku terorisme, kita tidak akan mendapatkan menyelesaikan apa pun," katanya. Sumber penegak hukum kawakan Amerika Serikat menyatakan jumlah "bisikan" dari sandi Rusia ke FBI setiap tahun tidak banyak. Tapi, dari dalam negeri, katanya, FBI menerima setidak-tidaknya 100 "bisikan" terorisme sehari, dari masyarakat, penegak hukum setempat dan negara, lembaga pusat lain dan masyarakat sandi. Ketua Panitia Sandi DPR Mike Rogers, mantan Agen FBI, membela badan itu. Anggota Republiken Michigan itu menyatakan FBI melakukan peninjauan "sangat teliti" atas sang kakak pada 2011, tapi kemudian gagal mendapat kerjasama lebih lanjut dari Rusia. "Perkara ditutup sebelum perjalanannya. Jadi, saya pikir kita tidak kehilangan apa pun," kata Rogers di "Meet the Press" NBC. "Pada titik tertentu, mereka bertanya, apakah ada lebih keterangan pemastian, dan tidak pernah menerima keterangan itu, dan pada titik tertentu, mereka tidak memiliki apa pun. Anda tidak dapat minta mereka melakukan sesuatu dengan tidak ada apa pun," kata Rogers. Tapi, McCaul dan King menyatakan penanganan perkara Tamerlan Tsarnaev itu tampak seperti bagian dari pola. Pemuda 26 tahun itu "tampak menjadi orang kelima sejak 11 September 2001, yang ikut dalam serangan, meskipun berada di bawah penyelidikan FBI," kata keduanya dalam surat bersama. Mereka menyebut yang lain itu adalah Anwar Awlaki, ulama kelahiran Amerika Serikat dan pemimpin unsur Al Qaida di Yaman, yang tewas akibat serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat; David Headley, orang Amerika Serkat, yang mengaku mencari sasaran untuk serangan di Mumbai pada 2008; Carlos Bledsoe, yang menewaskan tentara di luar kantor pembibitan di Arkansas pada 2009; dan Nidal Hasan, yang dituduh membunuh 13 orang di Fort Hood, Teksas, pada 2009. Selain itu, Umar Farouk Abdulmutallab, yang berusaha menjatuhkan pesawat Amerika Serikat di Detroit pada Natal 2009, dikenali CIA sebagai calon teroris, kata surat itu, dengan menambahkan bahwa perkara itu "memunculkan pertanyaan paling serius tentang efektivitas upaya kontra-terorisme pusat". Surat McCaul-King itu meminta semua keterangan, yang dipunyai pemerintah Ameriika Serikat tentang Tamerlan Tsarnaev sebelum 15 April. Surat itu juga ditujukan kepada Direktur Sandi Negara James Clapper dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Janet Napolitano. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
