Logo Header Antaranews Sumbar

Pembicaraan Perdamaian Pemerintah Kolombia-Farc Dilanjutkan

Selasa, 12 Maret 2013 11:30 WIB
Image Print

Havana, (Antara/Xinhua-OANA) - Pembicaraan perdamaian antara pemerintah Kolombia dan kelompok gerilyawan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) dilanjutkan di Kuba pada Senin (11/3), di tengah harapan optimistis dan kesedihan mengenai meninggalnya presiden Venezuela Hugo Chavez. Kedua pihak melanjutkan babak keenam pembicaraan mereka mengenai pembangunan desa dan wilayah, masalah utama bagi konflik lebih dari dua dasawarsa. "Karena masyarakat pribumi dan suku minoritas memainkan peran penting di dalam masyarakat, berbagai upaya mesti dilancarkan guna menanggapi pendapat dari masyarakat ini," kata utusan FARC, Jesus Santrich, kepada wartawan. "Mesti ada usul dalam kesepakatan perdamaian akhir mengenai pengelolaan lahan, tingkat tertentu otonomi dalam masalah tanah dan perlindungan khusus buat masyarakat pribumi," kata Santrich. Harapan tinggi telah beredar bagi babak pembicaraan saat ini, saat kedua pihak dilaporkan telah merancang kesepakatan lima-halaman mengenai masalah yang berkaitan dengan lahan, kata kelompok gerilyawan itu sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Sebelum pembicaraan dimulai, wakil FARC memanfaatkan waktu untuk memberi penghormatan kepada Chavez. "Izinkan saya menyampaikan penghormatan tulus kami buat Presiden Chavez, yang menjadi Presiden perdamaian, yang mewakili persaudaraan Amerika Latin," kata Santrich. Sebagaimana biasa, delegasi pemerintah tidak mengeluarkan komentar apa pun sebelum atau setelah pembicaraan tersebut. Pembicaraan perdamaian itu dimulai Oktober lalu di Norwegia dan dipindahkan ke Havana, Kuba, November lalu, dengan tujuan mengakhiri lima dasawarsa konflik bersenjata. Kolombia telah lama dirongrong perang saudara dan telah menjadi produsen serta pengeksport obat terlarang seperti kokain, dan tak kurang dari 600.000 orang telah tewas sejak 1964.. Alvaro Uribe, yang menjadi presiden dari 2006 sampai 2010, mengambil sikap keras terhadap gerilyawan sayap kiri dan pada saat yang sama menawarkan gagasan perdamaian sementara. Penggantinya, Juan Manuel Santor, memangku jabatan pada 2010 dan berikrar akan berusaha mengakhiri konflik berkepanjangan di negerinya. Pada Oktober 2012, Pemerintah Kolombia dan FARC --kelompok pemberontak terbesar di Kolombia-- melancarkan pembicaraan perdamaian. Namun pada akhir Februari, Juan Manuel Santos menyampaikan kekecewaan atas kurangnya kemajuan dalam perundingan perdamaian dengan FARC, bahkan mengancam menghentikan perundingan bilateral untuk mengakhiri konflik hampir 50 tahun di negerinya. Usaha terakhir untuk menghasilkan penyelesaian gagal tahun 2002, ketika pemberontak menggunakan zona demiliterisasi seluas Swiss sebagai tempat untuk menghimpun kembali kekuatan dan senjata. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026