
Kemendikbud Upayakan Belajar Mengajar Tidak Terganggu Asap
Selasa, 27 Oktober 2015 17:04 WIB

Padang, (AntaraSumbar) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI berupaya untuk mencari solusi agar proses belajar mengajar di provinsi yang terdampak kabut asap, tidak terganggu.
"Kita melihat, daerah memiliki dua sikap berbeda dalam menyikapi kabut asap ini berkaitan dengan proses belajar mengajar. Sebagian ada yang lebih mendahulukan kesehatan siswa dari pada palayanan pendidikan, sehingga memilih meliburkan siswa saat kabut asap makin tebal," kata kata Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta di Padang, Selasa.
Kemudian menurut dia, ada pula daerah yang lebih mendahulukan pelayanan pendidikan dari pada kesehatan sehingga tetap menyelenggarakan proses belajar mengajar meski kabut asap mengganggu, ujarnya.
Menurutnya, dua sikap ini memiliki kekurangan. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menurut dia mencari jalan tengah agar siswa tetap bisa belajar, tetapi tidak membahayakan kesehatan mereka.
"Kita bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mencari inovasi penyaring udara agar bisa digunakan di kelas sehingga siswa tetap bisa belajar," katanya.
Inovasi tersebut menurut dia disebut bunker perlindungan asap dengan konsep menggunakan peralatan murah meriah untuk mengisolasi ruangan dari partikel berbahaya asap sehingga bisa digunakan untuk belajar.
Dosen Program Studi Kimia ITB, Prof. Dr. Zeily Nurachman menerangkan, bunker perlindungan asap tersebut intinya adalah menyaring udara yang masuk ke ruangan dan memurnikan udara dalam ruangan yang belum tersaring.
"Ini pernah diuji coba. Hasilnya, udara dalam ruangan terasa lebih lega daripada udara luar ruangan. Tetapi secara ilmiah memang belum pernah diukur berapa perbedaan kualitas udara tersebut," ujarnya.
Dia menerangkan, membuat sebuah ruangan menjadi bunker perlindungan asap itu memerlukan beberapa benda di antaranya, kasa penyaring air aquarium atau bisa diganti dengan kain.
Kemudian, aquarium ukuran kecil 40cm x 25cm x 30cm untuk ruangan sekitar 6 kali 6 meter.
Lalu ganggang atau alga hijau untuk diletakkan dalam aquarium.
Terakhir kipas angin untuk mendorong percepatan sirkulasi udara.
"Cara kerjanya, semua ventilasi ruangan ditutup dengan kasa penyaring atau kain. Ini untuk menyaring udara yang masuk ke ruangan," katanya.
Jika menggunakan kain, maka harus dibasahi sekali 30 menit agar proses penyaringan lebih baik.
"Udara yang lolos dari penyaringan ini, akan disaring lagi secara alami oleh ganggang dalam akuarium. Jadi, tinggal letakkan akuarium dalam ruangan," katanya.
Dia mengatakan, secara alami, makanan ganggang itu adalah partikel asap yang membahayakan kesehatan manusia, jadi semakin banyak ganggang itu akan semakin baik.
"Membuat tirai air di dalam ruangan juga akan sangat membantu," katanya.
Selain itu, kipas angin juga dihidupkan untuk mempercepat sirkulasi udara.
Meski cara itu sangat sederhana, tetapi menurut dia efektif untuk membuat udara dalam ruangan lebih baik dari pada luar ruangan.
"Sekarang, di Padang ini, kita uji coba inovasi ini dan kita ukur hasilnya secara ilmiah," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbar diwakili Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Bustavidia mendukung penuh uji coba yang dilakukan tersebut.
Menurutnya, saat ini telah delapan kabupaten di Sumbar yang meliburkan siswa karena kabut asap.
"Jika percobaan ini berhasil, akan menjadi solusi bagi kita sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu," katanya. (*)
Pewarta: Miko Elfisha
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
