
BPNB Padang Gelar Bioskop Keliling
Kamis, 14 Mei 2015 16:32 WIB

Padang, (Antara) - Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang untuk wilayah kerja Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan menyediakan dan menggelar bioskop keliling untuk memutar beragam film serta video untuk mempromosikan budaya daerah di tengah masyarakat.
"Bioskop keliling ini salah satu dari program BPNB untuk mengingatkan kembali masyarakat tentang ragam budaya yang ada di daerahnya," kata Kepala Tata Usaha BPNB Padang, Jumhari di Padang, Kamis.
Ia menyebutkan pagelaran bioskop keliling ini dilakukan selama sepuluh kali dalam setahun, dengan mengitari seluruh daerah yang ada dalam wilayah kerja BPNB, terutama kota atau kabupaten yang meminta secara khusus untuk diputarkan film atau video tentang budaya daerah.
"Film dan video yang diputar beragam, mulai dari bergenre nasional, daerah atau jenis dokumenter yang merupakan hasil riset dan peneliti budaya," katanya.
Film tersebut, katanya, memiliki manfaat dan berisi tentang beragam budaya daerah, baik itu dalam bentuk benda atau adat istiadat.
Dia mencontohkan film nasional "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" yang dibintangi Herjunot Ali dan Pevita Pearce.
Film ini, katanya, juga pernah diputar dalam bioskop keliling beberapa waktu lalu.
Dalam film tersebut terdapat beragam adat dan kebiasaan budaya Minang seperti "musyawarah untuak mufakaik" , "makan bajamba", dan sebagainya, katanya.
Dengan melihat film seperti itu tentunya masyarakat akan kembali mengingat bahwa budaya Minang sangat beragam.
Lambat laun, katanya, masyarakat akan kembali memperkuat kebudayaannya mengingat saat ini cenderung terlupakan akibat modernisasi budaya barat.
"inilah yang menjadi sasaran BPNB dengan mengadakan bioskop keliling tersebut," kata Jumhari.
Sementara itu Budayawan Minangkabau Mak Katik mengatakan bahwa saat ini perlu upaya keras dari masyarakat untuk mengembalikan kejayaan budaya Minangkabau.
Menurut dia, upaya dari BPNB ini tidak akan cukup untuk mengembalikan kesenian budaya Minang seperti randai dan rabab, bila tidak adanya dukungan langsung dari pemerintah dan masyarakat.
Perlu adanya kesadaran sendiri dari masyarakat tentang arti pentingnya budaya dan adat istiadat, ucapnya. (*)
Pewarta: M R Denya Utama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
