Logo Header Antaranews Sumbar

Dunia Puji Lee Sebagai Negarawan Berpandangan ke Depan

Senin, 23 Maret 2015 12:21 WIB
Image Print

Singapura, (Antara/AFP) - Amerika Serikat dan Tiongkok pada Senin mempelopori pengakuan dunia terhadap Lee Kuan Yew, negarawan Singapura yang cerdas dan kadang-kadang berpandangan tajam dalam urusan dunia yang paling dicari oleh pengikutnya. Namun, ketika semua pujian ditujukan ke mantan perdana menteri yang meninggal di rumah sakit dalam usia 91 setelah lama menderita sakit, sejumlah pegiat hak asasi manusia asing mengatakan, kini tiba waktunya bagi Singapura untuk lebih mengendurkan aturannya. Lee diakui secara luas berhasil mengubah Singapura dari bekas jajahan Inggris di pinggiran dan sepi menjadi salah satu wilayah dengan masyarakat yang termakmur di dunia, ketika ia memimpin negeri itu dari tahun 1959 hingga 1990. "Ia sungguh-sungguh tokoh besar sejarah yang akan dikenang turun-temurun sebagai Bapak Singapura dan sebagai salah seorang ahli strategi besar dalam masalah Asia," kata Presiden AS Barack Obama. Pandangan Lee "sangat penting dalam membantu menyusun kebijakan untuk keseimbangan Asia-Pasifik," kata Obama dalam pernyataannya. Selama masa pemerintahannya, Lee menempatkan Singapura sebagai kekuatan penting dalam rancangan keamanan regional Amerika. Dalam wawancara dengan Forbes pada 2011, ia menampik pikiran yang menyebut bahwa Washington sudah terpuruk ke "peringkat kedua". Ia menunjuk jejak keberhasilan inovasi ekonomi Amerika, keingingannya untuk menarik bakat-bakat asing dan fakta bahwa bahasa Inggris adalah bahasa dunia --semua kekuatan yang diolahnya untuk membangkitkan Singapura. Namun Lee termasuk segelintir penganjur pandangan bahwa Tiongkok akan menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan, seperti yang ditulis di bukunya, dalam pertemuan dengan pemimpin baru yang sedang melejit, Deng Xiaoping pada 1978. Lee menulis bahwa ia mengatakan kepada Deng :"Apapun yang sudah kami lakukan, akan Anda kerjakan dengan lebih baik karena kami adalah keturunan dari petani tak berlahan di Tiongkok selatan." "Anda memiliki pelajar, cendekiawan dan para ahli. Apa saja yang sudah kami lakukan akan Anda kerjakan dengan lebih baik." Ketika Tiongkok mulai terbuka pada 1978, Deng dan koleganya di Partai Komunis mulai melirik gaya Lee -- mengawinkan kebebasan ekonomi dengan kendali politik yang kaku. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei mengatakan, Senin, bahwa Lee adalah "pencipta dan pembangun" hubungan antara negara-kota, yang suku terbesarnya adalah Tionghoa dengan negara berpenduduk terpadat di dunia itu. Hong menyanjung peran Lee yang "bersejarah" dalam membangun hubungan, dengan menambahkan "ia juga piawai menyiasati nilai-nilai ketimuran dengan sudut pandang internasional." Singa di antara pemimpin Pada tahun-tahun setelah Inggris menarik diri dari bekas jajahannya di dunia Lee menciptakan Singapura modern keluar dari badai politik persatuan dengan Malaysia. Hubungan kedua negara itu masih bergolak selama beberapa tahun. Namun dalam perkabungan Lee, PM Malaysia Najib Razak memuji "Adalah ketetapan Lee dalam membangun Singapura dari suatu negara baru menjadi modern dan kota yang hidup seperti yang kita saksikan sekarang". "Pencapaiannya luar biasa dan warisannya terjamin," katanya. Pandangan politiknya ditempa pada Perang Dunia II ketika Jepang mengikuti pasukan Inggris dan Australia untuk menduduki Singapura. Lee belajar hukum di Universitas Cambridge kemudian kembali ke negaranya dengan keyakinan bahwa Asia harus bisa menjadi penentu nasibnya sendiri. Perdana Menteri Inggris David Cameron mencatat bahwa kadang-kadang Lee merupakan teman yang kritis bagi Inggris tetapi menekankan bahwa "tempatnya di dalam sejarah sudah pasti, sebagai seorang pemimpin dan salah seorang negarawan terkemuka di dunia." Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai "pemimpin besar Asia yang meletakkan dasar bagi kemakmuran Singapura masa kini." PM India Narendra Modi juga mengakui warisan Lee, dalam cuitannya di Twitter "Negarawan berpandangan jauh dan singa di antara para pemimpin. Kehidupan Lee Kuan Yew mengajarkan nilai-nilai penting bagi semua orang." Salah satu pelajaran yang ingin ditanamkannya adalah lidah yang tajam pada 1980 ketika ia mengatakan bahwa Australia akan menjadi sampah putih Asia jika tidak membuka ekonominya. "Kawasan kita berutang banyak pada Lee Kuan Yew," kata PM Australia, Tony Abbott dan menambahkan "hari ini kita berduka cita atas meninggalnya orang besar di kawasan ini." Dalam pengakuan atas dirinya di kancah internasional, Lee adalah calon yang pantas menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ban Ki-moon yang kini menjadi ketua PBB menyebut Lee "Sosok legendaris Asia." Kelompok Hak Asasi Manusia sebaliknya mengatakan bahwa kepergian Lee sebaiknya membuka pintu yang lebih lebar bagi kebebasan politik di Singapura, dimana tokoh-tokoh oposisi telah dipenjarakan atau dibuat mengasingkan diri atau bahkan mengalami keruntuhan keuangan. "Peran besar Lee Kuan Yew dalam pembangunan ekonomi memang tidak diragukan lagi, tetapi juga menelan biaya yang besar bagi Hak Asasi Manusia," kata Phil Robertson, deputi direktur Asia, kelompok Pemantau HAM yang berpusat di AS. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026