
Banyak Jalan Menjadi Haji

Jeddah, (ANTARA) - Cerita beberapa mukimin Indonesia yang dijumpai di Mekkah Al Mukarramah begitu terasa mengesankan, inspriratif dan mengharukan, terkait dengan persoalan ritual ibadah haji dan perjuangan untuk mendapatkannya sebagai haji mabrur. Inilah kisah Muhammad Fiqri, yang dijumpai di sekitar kompleks Masjidil Haram, Mekkah, Sabtu silam. Pria asal Kecamatan Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) ini telah bermukim dua tahun di kota suci itu dan hidup tanpa bermodal uang cukup. Ia bekerja serabutan. Kini Fiqri telah menjadi haji dan bahkan telah menjadi pemandu (guide) bagi jamaah haji Malaysia. Penghasilan dari memandu jamaah haji Malaysia itu berkisar 1500 real atau sekitar Rp3,5 juta. Di luar musim haji, ia bersama puluhan mukimin Indonesia lainnya mengerjakan apa saja yang menghasilkan uang untuk bertahan tinggal di tanah suci ini. Dari banyak cerita Fiqri, hal yang paling berkesan baginya ketika dapat melaksanakan haji. Sementara itu, rekannya Musaid Jamil Hole, asal Ambon, sejak berusia enam tahun hijrah dengan keluarganya ke Mekkah. Jamil bekerja sebagai tenaga musiman di Petugas Pelayanan Haji Indonesia selama 10 tahun. Di luar musim haji, lelaki berusia 31 tahun ini bekerja sebagai supir, mengantar anak sekolah. Jika ada rekor pergi haji, Jamil mungkin patut diperhitungkan, karena telah melaksanakannya sebanyak 25 kali berturut-turut setiap tahunnya tanpa putus. Muhammad Fiqri dan Musaid, dua di antara ratusan mukimin Indonesia yang hijrah ke tanah suci. Mereka butuh untuk terus dapat beribadah di pusat-pusat peradaban Islam yang dijanjikan memperoleh pahala berlipat ganda menjadi niat utama mereka. Kedua orang ini yakin bahwa Mekkah dengan pusatnya Masjidil Haram telah beratus-ratus tahun menjadi salah satu corong ilmu di Dunia Islam. *(*)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
