
Devisa Minyak Nabati 3,785 Miliar Dolar AS

Medan, (Antara) - Devisa Sumatera Utara dari ekspor lemak dan minyak hewan/nabati tahun 2014 hingga November sudah naik 1,97 persen atau menjadi 3, 785 miliar dolar AS di tengah prediksi kurang membaiknya harga jual crude palm oil atau CPO di 2015. "Tahun 2014 hingga November, devisa lemak dan minyak hewan/nabati yang antara lain berupa CPO mengalami kenaikan sedikit dari periode sama 2013 yang masih 3,712 miliar dolar AS.Kenaikan itu menyenangkan di tengah ada kekhawatiran tahun ini, devisa dari golongan barang itu menurun,"kata Kepala Badan Pusat Statitik (BPS) Sumut, Wien Kusdiatmono di Medan, Senin. Menurut dia, sebenarnya nilai devisa dari minyak heran/nabati tahun 2014 bisa lebih besar, kalau tidak terjadi penurunan permintaan dan khususnya harga ekspor produk itu dalam beberapa bulan menjelang akhir tahun. Dia memberi contoh, pada November, nilai devisa dari golongan barang itu turun 18,62 persen menjadi hanya 333,226 juta dolar AS dari Oktober yang sudah 409,450 juta dolar AS. Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun, mengatakan, pada tahun 2015 memang ada prakiraan harga CPO di pasar internasional tidak jauh lebih baik dari 2014, bahkan bisa lebih murah. "Kalau harga rata-rata CPO tahun 2014 di sekitar 700an dolar AS per MT (metrik ton), maka tahun 2015 masih diperkirakan seperti itu juga bahkan bisa jadi melemah dampak berbagai hal,"katanya. Prakiraan kecenderungan menurunnya harga karena selain permintaan masih akan melemah, juga dampak kenaikan bea masuk CPO yang dilakukan India yang merupakan salah satu negara pembeli utama Sumut bahkan Indonesia. Harga jual CPO hingga awal tahun 2015, juga masih di kisaran 660an dolar AS hingga 700an dolar AS per MT. "Meski Pemerintah menetapkan BK (bea keluar ekspor CPO pada Januari 2015 masih nol persen seperti Desember 2014, tetapi masih belum menaikkan gairah eksportir karena harga jual yang 660an dolar AS per MT itu dinilai masih rendah,"katanya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
