
AIPI NTT: Tak Ada Figur Pemersatu Golkar

Kupang, (Antara) - Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Nusa Tenggara Timur, Acry Deodatus berpendapat, dualisme di tubuh Partai Golkar saat ini terjadi karena tidak ada lagi figur kuat yang mampu menjadi penyatu di tubuh partai itu. "Perpecahan di tubuh Golkar bukanlah hal yang baru. Memang karakter Golkar di era reformasi sudah seperti itu. Belum ada figur kuat yang mampu mempersatukan kader golkar seperti Soeharto dulu," kata Acry Deodatus di Kupang, Selasa, terkait dualisme kepemimpinan di tubuh partai berlambang pohon beringin itu. Acry Deodatus yang adalah tokoh senior Golkar NTT itu mengatakan, saat ini para elit partai ataupun tokoh-tokoh partai lebih cenderung mengejar ambisi pribadi dan kelompoknya, ketimbang memikirkan masa depan partai itu. Bahkan para pemimpin partai berlambang pohon beringin itu saat ini beranggapan bahwa partai tersebut milik perorangan, dan memanfaatkan partai untuk melindungi bisnis, membentengi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kondisi ini telah meresahkan jutaan anggota dan pendukung partai itu di seluruh Indonesia, sehingga mengancam masa depan partai tertua di negeri ini, katanya. "Saat ini, jutaan simpatisan partai dan kader terpecah-pecah. Ada yang berusaha untuk mencari jalannya sendiri-sendiri," katanya. Jika dua kelompok ini tidak segera menyatu, maka nama Partai Golkar akan tenggelam di parlemen pascapemilu presiden dan pada pemilu legislatif 2019, katanya. Mengenai solusi, dia mengatakan, yang bisa menyatukan dua kubu yang sedang bertikai saat ini adalah kedua pihak duduk bersama dan menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) Golkar. Munas ini digelar secara transparan dengan menghadirkan semua kandidat ketua umum, baik dari Munas Bali dan Munas Jakarta untuk bertarung secara terbuka. "Kalau dua kubu ini bisa sepakat menggelar Munaslub, maka persoalan di partai golkar bisa diselesaikan dan semua kader bisa bersatu untuk bersama bergandengan tangan membangun kembali partai ini," kata Acry Deodatus. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
