
Semen Indonesia Mulai Pembangunan Pabrik di Rembang

Rembang, (Antara) - PT Semen Indonesia (Persero) memulai pembangunan pabrik baru berkapasitas 3 juta ton per tahun dengan konsep ramah lingkungan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin. "Pabrik baru di Rembang ini merupakan langkah kami memperkuat ekspansi agar Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, yakni BUMN tetap menjadi market leader industri semen nasional," kata Direktur Utama PT Semen Indonesia Dwi Soetjipto. Lebih membanggakan lagi, pabrik di Rembang ini adalah pabrik ramah lingkungan yang dikerjakan secara swakelola oleh putra-putri terbaik bangsa, ujarnya. Pabrik yang berada di lahan seluas 55 hektare ini didesain sebagai pabrik ramah lingkungan dengan konsumsi energi dan air yang minim serta memperbanyak ruang hijau. Sebanyak 30 persen wilayah pabrik digunakan untuk ruang terbuka hijau (RTH). "Konsep green industry di Rembang kami wujudkan dengan meningkatkan konsumsi energi alternatif dari limbah pertanian, menekan konsumsi air dan listrik, kontrol emisi yang ketat, dan tetap melestarikan keanekaragaman hayati. Kami ingin mewujudkan environmental excellence dalam pengelolaan pabrik ini," tuturnya, dalam keterangan tertulisnya. Dimulainya pembangunan pabrik baru di Rembang itu diawali dengan syukuran dan doa bersama yang dipimpin oleh lima tokoh Rembang, yakni Mbah Achmad Akhid dari Timbrangan, Mbah Sarki dari Pasucen, Mbah Syamsudin dari Kajar, Mbah Purwoto dari Kadiwono, dan Kyai Nasikun dari Tegaldowo. Dalam upaya pencegahan pencemaran, menurut dia, perseroan melengkapi diri peralatan modern pencegah pencemaran berupa mesin pengisap debu, seperti electrostatic precipitator, cyclone, conditioning tower, dan bag house filter. Hasil pengukuran secara berkala menunjukkan emisi yang dikeluarkan pabrik-pabrik perseroan selalu di bawah baku mutu yang ditetapkan. "Di setiap pabrik, kami selalu membentuk Green Belt dan Green Barrier yang berfungsi menjaga udara dan menjadi filter alami pencipta oksigen yang melengkapi peralatan penangkap debu modern," tutur Dwi Soetjipto. Dalam hal efisiensi sumberdaya alam, perusahaan melakukan serangkaian langkah nyata. Di antaranya adalah mengoptimalkan pemanfaatan energi alternatif dari limbah pertanian (biomass), seperti sekam padi, cocopeat, serbuk gergaji, limbah tembakau, dan sampah kota sebagai RDF (refuse derivative fuel). Sampah kota yang diolah untuk dijadikan biomass mencapai 300 ton per hari yang didapatkan dari Kabupaten Gresik dan Kabupaten Tuban, Jatim. "Kami juga memaksimalkan penggunaan bahan baku alternatif dengan memanfaatkan limbah atau produk samping industri lain sebagai pengganti bahan baku semen, seperti copper slag untuk pengganti pasir besi, fly ash untuk pengganti batuan-batuan alam, dan synthetic gypsum untuk pengganti natural gypsum," papar Dwi Soetjipto. Terkait penghematan air, pabrik perseroan menggunakan air permukaan dan air buangan dari pabrik untuk dimanfaatkan kembali sebagai air proses sehingga mengurangi pemanfaatan air bawah tanah. Di pabrik Tuban, katanya, indeks penggunaan konsumsi air buangan melalui fasilitas tersebut terus meningkat dari 23 liter per ton semen pada 2007 menjadi lebih dari 80 liter per ton semen pada 2012. "Pabrik kami menggunakan proses kering untuk memproduksi semen. Air hanya dibutuhkan untuk keperluan pendinginan mesin produksi. Indeks pemakaian air turun dari 200 liter per ton semen pada 2007 menjadi sekitar 130 liter per ton semen pada 2012." "Efisiensi konsumsi air Semen Indonesia menduduki peringkat kedua dari 14 industri sejenis dalam skala dunia. Artinya, kami memastikan bahwa penggunaan air oleh perusahaan tidak mengganggu sumber air di sekitar pabrik," jelas Dwi Soetjipto. Saat ini, desain kapasitas produksi Grup Semen Indonesia mencapai 31,8 juta ton. Dengan ekspansi pabrik di sejumlah wilayah, termasuk Rembang, desain kapasitas produksi perseroan diharapkan mencapai level 39,3 juta ton pada 2016 dan menjadi 40,8 juta ton pada 2017. Di pasar dalam negeri, kelompok perusahaan semen terbesar di Indonesia ini memimpin penguasaan pasar (market share) sebesar 43,8 persen. Sepanjang kuartal I/2014, perseroan berhasil menjual 6,16 juta ton semen di tingkat domestik, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,95 juta ton. Perseroan mencetak pendapatan sebesar Rp6,17 triliun, meningkat 11,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,54 triliun. Pada periode kuartal I/2014, Semen Indonesia membukukan laba bersih sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,23 triliun. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
