
Kepala Lembaga Kemanusiaan PBB Serukan Akses Bantuan Penuh ke Suriah

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Kepala lembaga kemanusiaan PBB pada Rabu (4/6) menyerukan diberikannya akses bantuan penuh ke Suriah --yang dicabik pertempuran, dan memperingatkan kebutuhan mereka yang terpengaruh meningkat dengan cepat sementara konflik berkecamuk. Valerie Amos, Wakil Sekretaris PBB Urusan Kemanusiaan, mengatakan dalam satu taklimat yang diadakan di Markas PBB di New York City, "Kita telah menyaksikan peningkatan mencolok penggunaan bom barel secara membabi-buta oleh pemerintah, serangan mortir oleh kelompok oposisi, gas beracun yang diduga digunakan terhadap warga sipil dan penghukuman warga sipil secara kolektif." "Terjadi semua pelanggaran terhadap prinsip yang paling mendasar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional," kata Amos setelah memberi penjelaran kepada Dewan Keamanan dalam satu pertemuan mengenai pelaksanaan resolusi tentang akses kemanusiaan di Suriah. Pada Februari, Dewan Keamanan mensahkan Resolusi 2139, yang berusaha menangani masalah yang berkaitan dengan akses ke orang yang memerlukan bantuan di dalam Suriah, kewajiban oleh semua pihak untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional, dan demiliterisasi sekolah serta rumah sakit. "Resolusi tersebut belum mengirim apa yang dimaksudnya," kata Amos, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Ia menambahkan lembaga bantuan hanya bisa menjangkau sebanyak tujuh persen orang yang hidup di daerah terkepung di Suriah. "Itu adalah pengingat nyata mengenai kenyataan di lapangan: konflik aktif, halangan birokrasi, dan kondisi yang diberlakukan oleh semua pihak atas pengiriman bantuan, yang telah mengakibatkan kemerosotan bantuan penting buat orang yang paling rentan." Menurut data statistik PBB, di tengah meningkatnya angka kerusuhan di Suriah, ada 6,5 juta orang yang kehilangan tempat tinggal di dalam negeri mereka --sebanyak 20 persen dari seluruh jumlah orang yang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka akibat konflik di seluruh dunia. Selain itu, 241.000 orang masih hidup dalam pengepungan, dan sedikitnya 2,5 juta orang di Kota Aleppo dengan sengaja tak diberikan air selama lebih dari satu pekan pada Mei, ketika kelompok oposisi bersenjata menutup stasiun pompa utama di kota tersebut. Sedikitnya 90.000 orang di daerah yang sulit-dicapai tak memperoleh bantuan medis akibat diambilnya obat dan pasokan kesehatan dari rombongan antar-lembaga, tambah Amos. "Tapi kurangnya kemajuan di bidang politik, tekanan dan harapan yang dilakukan atas pelaku kemanusiaan telah meningkat," katanya. PBB dan semua mitranya berusaha menemukan cara meningkatkan bantuan penyelamat-jiwa di seluruh Suriah dan dalam "suasana yang sangat rumit"; pekerja bantuan membahayakan keselamatan mereka untuk membantu orang yang memerlukan bantuan. "Mereka tak bersenjata tapi tak terpengaruh," kata Amos. "Tantangan kami sekarang ialah memelihara perdamian dan meningkatkan bantuan sampai tingkat yang diplerukan." (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
