Logo Header Antaranews Sumbar

Harga Minyak Naik Didukung Data Manufaktur AS dan Tiongkok

Selasa, 3 Juni 2014 15:24 WIB
Image Print

Singapura, (Antara/AFP) - Harga minyak dunia naik di perdagangan Asia pada Selasa, didukung data manufaktur yang kuat dari konsumen energi global utama Amerika Serikat dan Tiongkok, kata para analis. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 15 sen menjadi 102,62 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli naik 11 sen menjadi 108,94 dolar AS dalam perdagangan sore. Para analis mengatakan harga minyak mengikuti keuntungan di Wall Street pada Senin, setelah Institute of Supply Management (ISM) mengatakan indeks pembelian manajer (PMI) AS untuk aktivitas manufaktur naik pada Mei menjadi 55,4 dari 54,9 pada April. Indeks pembelian manajer resmi aktivitas manufaktur Tiongkok mencapai 50,8 pada Mei, pemerintah mengatakan pada Minggu, tertinggi dalam lima bulan terakhir, naik dari 50,4 pada Maret. Data PMI adalah indikator yang diawasi dengan ketat dari kesehatan ekonomi suatu negara, dan angka di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan. "Pasar minyak saat ini difokuskan pada data manufaktur dariAmerika Serikat dan Tiongkok," Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney, mengatakan kepada AFP. "Tetapi kita melihat beberapa premi risiko yang terkait dengan Ukraina karena krisis terus berlarut-larut dengan perkembangan baru memiliki sedikit dampak," kata McCarthy. "Itu yang meredam setiap faktor kenaikan pada minyak." Pasukan pemerintah dan gerilyawan pro-Rusia telah terlibat dalampertempuran selama berminggu-minggu di Ukraina timur, tetapi pertempuran tersebut sejauh ini tidak meluas menjadi perang sipil penuh di negara bekas-Soviet itu. Barat menuduh Rusia mengobarkan kerusuhan di tetangganya sejaktersingkirnya Presiden pro-Kremlin Viktor Yanukovych pada Februari. Moskow membantah tuduhan tersebut. Investor khawatir meningkatnya konflik di Ukraina, saluran untuk seperempat impor gas Eropa dari Rusia, akan mengganggu pasokan dan mengirim harga energi melonjak. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026