Padang (ANTARA) - Departemen Pendidikan Non Formal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar Diskusi Publik bertemakan "Pendidikan Non Formal Jalan Alternatif Mencerdaskan Bangsa" di auditorium kampus UNP Air Tawar, Kota Padang, dengan menghadirkan Akademisi dan Filsuf, Rocky Gerung.
"Diskusi publik ini menekankan peran kritis pendidikan di luar sistem sekolah, dalam memenuhi kebutuhan hidup dan membangun kesadaran masyarakat," kata Rektor UNP, Krismadinata,PhD, dalam sambutannya di Padang, Kamis.
Ia menyampaikan apresiasinya kepada FIP dan Departemen PNF, atas terlaksananya diskusi publik tersebut. Apalagi dengan menghadirkan narasumber nasional seorang akademi dan filsuf, Rocky Gerung yang terkenal dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis dan tajam.
Menurutnya, pendidikan non formal selaras dengan filosofi Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru, yang menempatkan pengalaman hidup sebagai sumber utama pembelajaran.
“Pendidikan non formal sejatinya sudah kita peroleh sejak awal dari orang tua. Setiap pengalaman hidup adalah proses pendidikan," lanjutnya.
Kepala Departemen Pendidikan Non Formal, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang, Prof. Ismaniar mengatakan pendidikan tidak bisa mengubah dunia, tapi bisa mengubah pola pikir.
Salah satu cara mengubah negara ini dengan membawa pendidikan itu di tengah-tengah masyarakat, karena tidak semua yang bisa tersentuh oleh pendidikan formal, sedangkan semua orang berhak mendapatkan pendidikan.
"Kami ingin mahasiswa Pendidikan Non Formal, dosen, dan praktisi pendidikan non formal, memiliki rasa kepercayaan yang tinggi, untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa", katanya.
Sementara itu, Rocky Gerung dalam diskusi publik mengatakan tanah Minang merupakan daerah yang surplus pemikir dan cendikiawan, bahkan sejak sebelum kemerdekaan RI.
Dia menyebut Tan Malaka, KH Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Buya Hamka sebagai tokoh nasional dari Ranah Minang yang tumbuh melalui proses pembelajaran non formal, bahkan dalam situasi keterasingan, pelarian hingga penjara.
“Minangkabau surplus pemikir sejak awal. Kemampuan retorika Agus Salim sulit dibantah, dan Tan Malaka adalah intelektual unik yang mampu menulis tanpa referensi formal karena proses belajar non formal yang kuat,” katanya.
Rocky juga menegaskan, semangat universitas adalah menguji argumen dan membuka ruang oposisi pemikiran sebagai bagian dari keberanian intelektual.
Pendekatan ini, menurutnya, sejalan dengan Suistainable Development Goals (SDG) 4 atau tujuan pembangunan berkelanjutan poin keempat yang mendorong pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, penghormatan hak asasi manusia, kesetaraan, serta budaya damai dan inklusif.