Padang (ANTARA) - DPRD Sumatera Barat (Sumbar) berkomitmen untuk terus memberikan penguatan terhadap produk industri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di provinsi tersebut agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. 

"Termasuk dengan memberikan dukungan dan penguatan atas konsep hulu ke hilir yang telah diterapkan," kata Ketua DPRD Sumbar Supardi melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Padang, Sabtu. 

Konsep hulu ke hilir salah satunya telah diterapkan dalam proses pembuatan batik lumpo di tiga SMK di Kota Padang yang saling bermitra yakni SMK 4, SMK 8 dan SMK 2. 

Ia menjelaskan bahwa SMK 4 Padang merupakan hulu dengan memproduksi dasar kain batik, kemudian SMK 8 sebagai semi hilir yang merancang kain batik hasil SMK 4 menjadi produk tekstil. Selanjutnya SMK 2 sebagai hilir untuk pemasaran.

"Dengan penguatan yang diberikan, tentu tiga sekolah ini bisa terus mengasah jiwa entrepreneur siswa yang bermanfaat untuk masa depan anak dan daerah," ujarnya. 

Lebih jauh, Supardi mengatakan penanaman nilai-nilai entrepreneur merupakan sebuah proses dimana tidak ada jurusan khusus pada pendidikan formal untuk menumbuhkannya, melainkan lingkungan menjadi salah satu faktor dalam mengasah bakat alami itu.

"Jadi kolaborasi yang dilakukan oleh tiga SMK ini bisa dijadikan role model untuk siswa sebagai bekal masa depan, sehingga saat lulus mereka bisa menerapkan proses-proses yang telah dilalui sebagai individu yang mandiri," kata dia. 

Menurutnya, produk yang dihasilkan oleh tiga SMK di Kota Padang tersebut pada bidang tekstil tidak kalah dengan produk yang dihasilkan oleh industri besar. Bahkan, jika diperkuat lagi memungkinkan untuk dapat merambah pasar internasional termasuk melalui expo-expo kelas dunia. 

Ke depan, lanjutnya, pihaknya mendorong pemerintah provinsi untuk memberikan perhatian lebih terhadap SMK-SMK yang ada terutama yang memiliki potensi.

"Seperti SMK 2 Padang yang memiliki tempat pemasaran produk, ke depan kita akan jadikan sebagai pusat penjualan produk-produk SMK se-Sumbar," ujarnya. 

Ia menambahkan jika seluruh produk SMK telah dipasarkan pada satu pintu, maka DPRD akan mendorong kerjasama dengan asosiasi terkait, salah satunya ASITA agar dapat mengarahkan wisatawan yang datang ke Sumbar mesti singgah untuk melihat serta membeli produk SMK.

"Tidak hanya produk tekstil, nantinya juga ada produk lain misalnya kuliner atau kerajinan lainnya," tutupnya. 

Sementara itu, seorang fashion designer sekaligus pemilik CV Novia bergerak pada bidang pakaian Novia Hertini mengatakan batik lumpo merupakan usaha berbasis masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan yang bermitra pada CV yang ia pimpin. 

Ia menjelaskan kemitraan tersebut telah berjalan selama tujuh tahun, kemudian dijalankan pula program pemadanan dengan menggandeng tiga SMK di Kota Padang. 

Dalam program tersebut, katanya,  CV Novia sebagai industri membantu SMK sebagai salah satu bentuk CSR sebesar Rp1,7 miliar. 

"Dengan program yang digagas maka tiga sekolah kejuruan juga mendapatkan bantuan dari kementerian terkait sebesar Rp4 miliar. Tahun ini kita juga diberikan target untuk pasar yang jelas hingga branding produk yang dihasilkan," tambahnya.

Pewarta : Siaran pers
Editor : Muhammad Zulfikar
Copyright © ANTARA 2024