Wall St turun tertekan data inflasi AS yang panas
Sabtu, 1 Oktober 2022 8:36 WIB
Ilustrasi - Para pialang memperhatikan layar monitor pergerakan saham di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. REUTERS/Brendan McDermid/aa.
New York (ANTARA) - Saham-saham di Wall Street turun tajam pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena investor khawatir tentang prospek pengetatan kebijakan moneter agresif bank sentral lebih lanjut menyusul laporan inflasi yang panas lainnya.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 500,10 poin atau 1,71 persen, menjadi menetap di 28.725,51 poin. Indeks S&P 500 tergerus 54,85 poin atau 1,51 persen, menjadi berakhir di 3.585,62 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 161,89 poin atau 1,51 persen, menjadi ditutup di 10.575,62 poin.
Ketiga indeks utama membukukan penutupan terendah sejak 2020. Indeks S&P dan Dow mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut, dan ketiga indeks membukukan kerugian bulanan kedua berturut-turut. Untuk September, Dow turun 8,8 persen, S&P 500 jatuh 9,3 persen dan Nasdaq kehilangan 10,5 persen.
Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor utilitas dan teknologi masing-masing tergelincir 1,97 persen dan 1,94 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor real estat menguat 0,99 persen, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.
"Ini adalah hari buruk lainnya untuk mengakhiri kuartal yang buruk di tahun yang tampak sangat buruk," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha, Nebraska.
"Kesadaran bahwa The Fed melakukan apa pun yang mereka bisa untuk memerangi inflasi tertinggi 40 tahun membuat investor khawatir mereka akan mendorong ekonomi ke tepi dan ke dalam resesi," tambah Detrick.
Data yang dirilis Jumat (30/9/2022) menunjukkan ukuran utama inflasi AS datang lebih tinggi dari yang diperkirakan pada Agustus meskipun Federal Reserve berupaya untuk menurunkan harga-harga.
Departemen Perdagangan AS mengatakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,6 persen pada Agustus, di atas konsensus 0,5 persen, dan mencatat kenaikan 4,9 persen tahun-ke-tahun.
Inflasi PCE utama naik 0,3 persen untuk kenaikan 6,2 persen tahun-ke-tahun, juga di atas perkiraan pasar.
Komentar Fed baru-baru ini menggarisbawahi bahwa bank sentral tetap fokus pada memerangi inflasi dan tidak mau menyimpang dari pengetatan untuk melindungi pertumbuhan atau pasar.
Wakil Ketua Fed Lael Brainard pada Jumat (30/9/2022) menggarisbawahi perlunya mengatasi inflasi dan pentingnya tidak menyusut dari tugas sampai selesai.
Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengindikasikan pada Kamis (29/9/2022) bahwa Fed tidak akan menghentikan kenaikan suku bunga sekalipun menyebabkan resesi.
"Perkembangan terbaru menggarisbawahi pandangan kami bahwa kondisi belum siap untuk perubahan sentimen pasar yang berkelanjutan," Mark Haefele, kepala investasi di UBS Global Wealth Management, mengatakan dalam sebuah catatan Jumat (30/9/2022), menambahkan bahwa investor harus bersiap untuk lebih banyak volatilitas pasar.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wall St turun tertekan data inflasi AS yang panas, Dow anjlok 500 poin
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 500,10 poin atau 1,71 persen, menjadi menetap di 28.725,51 poin. Indeks S&P 500 tergerus 54,85 poin atau 1,51 persen, menjadi berakhir di 3.585,62 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 161,89 poin atau 1,51 persen, menjadi ditutup di 10.575,62 poin.
Ketiga indeks utama membukukan penutupan terendah sejak 2020. Indeks S&P dan Dow mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut, dan ketiga indeks membukukan kerugian bulanan kedua berturut-turut. Untuk September, Dow turun 8,8 persen, S&P 500 jatuh 9,3 persen dan Nasdaq kehilangan 10,5 persen.
Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor utilitas dan teknologi masing-masing tergelincir 1,97 persen dan 1,94 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor real estat menguat 0,99 persen, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.
"Ini adalah hari buruk lainnya untuk mengakhiri kuartal yang buruk di tahun yang tampak sangat buruk," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha, Nebraska.
"Kesadaran bahwa The Fed melakukan apa pun yang mereka bisa untuk memerangi inflasi tertinggi 40 tahun membuat investor khawatir mereka akan mendorong ekonomi ke tepi dan ke dalam resesi," tambah Detrick.
Data yang dirilis Jumat (30/9/2022) menunjukkan ukuran utama inflasi AS datang lebih tinggi dari yang diperkirakan pada Agustus meskipun Federal Reserve berupaya untuk menurunkan harga-harga.
Departemen Perdagangan AS mengatakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,6 persen pada Agustus, di atas konsensus 0,5 persen, dan mencatat kenaikan 4,9 persen tahun-ke-tahun.
Inflasi PCE utama naik 0,3 persen untuk kenaikan 6,2 persen tahun-ke-tahun, juga di atas perkiraan pasar.
Komentar Fed baru-baru ini menggarisbawahi bahwa bank sentral tetap fokus pada memerangi inflasi dan tidak mau menyimpang dari pengetatan untuk melindungi pertumbuhan atau pasar.
Wakil Ketua Fed Lael Brainard pada Jumat (30/9/2022) menggarisbawahi perlunya mengatasi inflasi dan pentingnya tidak menyusut dari tugas sampai selesai.
Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengindikasikan pada Kamis (29/9/2022) bahwa Fed tidak akan menghentikan kenaikan suku bunga sekalipun menyebabkan resesi.
"Perkembangan terbaru menggarisbawahi pandangan kami bahwa kondisi belum siap untuk perubahan sentimen pasar yang berkelanjutan," Mark Haefele, kepala investasi di UBS Global Wealth Management, mengatakan dalam sebuah catatan Jumat (30/9/2022), menambahkan bahwa investor harus bersiap untuk lebih banyak volatilitas pasar.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wall St turun tertekan data inflasi AS yang panas, Dow anjlok 500 poin
Pewarta : Apep Suhendar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
IHSG diprediksi lanjutkan pelemahan, pasar tunggu negosiasi RI-Amerika Serikat
09 April 2025 9:18 WIB
Saham Wall Street ditutup lebih tinggi, Dow bukukan kenaikan hari kedelapan
20 July 2023 7:41 WIB, 2023
Saham-saham Wall Street Sabtu pagi berakhir turun tajam tertekan kecemasan penularan bank
18 March 2023 6:47 WIB, 2023
Saham-saham Wall St Selasa pagi sebagian besar turun terseret saham bank, Nasdaq menguat
14 March 2023 7:09 WIB, 2023
Saham-saham Wall Street Kamis pagi beragam, investor bidik data pekerjaan mendatang
09 March 2023 7:11 WIB, 2023
Saham-saham Wall St Rabu pagi anjlok imbas Powell isyaratkan kenaikan suku bunga lebih tajam
08 March 2023 6:28 WIB, 2023
Saham-saham Wall Street Selasa pagi ditutup beragam jelang kesaksian Powell, laporan pekerjaan
07 March 2023 6:34 WIB, 2023
Saham-saham Wall Street Jumat pagi menetap lebih tinggi setelah imbal hasil obligasi melemah
03 March 2023 6:20 WIB, 2023
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas batangan Antam turun Rp14.000 jadi Rp2,94 juta per gram, Senin (16/02/2026)
16 February 2026 9:21 WIB
Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (16/02/2025) hari ini tak bergerak
16 February 2026 8:40 WIB
Harga emas Antam Sabtu (14/02/2026) hari ini naik Rp50 ribu jadi Rp2,954 juta per gram
14 February 2026 9:44 WIB
Sabtu (14/02/2026) hari ini, emas UBS Rp2,961 juta per gr, Galeri24 Rp2,938 juta per gr
14 February 2026 6:25 WIB
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB