Jakarta, (ANTARA) - Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki Widya Sawitar menjelaskan asal muasal istilah fenomena "strawberry supermoon" atau purnama super stroberi.

Widya membeberkan istilah itu saat menggelar acara "Piknik Malam Bersama" di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Selasa malam.

Awalnya, Widya mendapatkan pertanyaan dari salah satu peserta acara itu mengenai istilah strawberry supermoon yang tidak terlihat merah seperti buah stroberi, namun justru berwarna putih.

"Katanya stroberi, kok warnanya putih?" demikian pertanyaan dari salah seorang peserta piknik malam tersebut.

Kemudian, Widya menerangkan para astronom tidak menggunakan istilah strawberry dari fenomena supermoon untuk menyebut purnama super pada malam ini.

Widya menuturkan istilah nama stroberi itu memang ada, namun tidak terkait dengan bentuk purnama super saat ini.

"Kami sih astronom tidak memakai itu. Tapi dari budaya, ya itu ada. Sekarang ini memang musim stroberi misalnya di sana, nah disebut Strawberry Moon. Enggak ada kaitan dengan bentuk," kata Widya.

Bapak Astronom Amatir Indonesia tersebut menyamakan definisi stroberi dengan istilah lain, seperti "blue moon" yang tidak terkait penampakan berwarna biru, namun karena ada purnama dua kali dalam satu bulan Masehi.

"Misalnya, 1 Januari purnama. Nanti purnama lagi 30 Januari, nah yang kedua itu namanya Blue Moon. Jadi dalam bulan yang sama," tutur Widya.

Widya juga menjelaskan istilah fenomena unik lain, yakni bulan darah (Blood Moon) yang tidak terkait dengan darah.

Menurut Widya, istilah blood moon karena mengikuti warna bulan yang sedikit kemerah-merahan seperti tembaga.

Sementara itu, Ketua Panitia Acara Piknik Malam Bersama Taman Impian Jaya Ancol Muhammad Raihan menuturkan strawberry supermoon menyadur istilah luar negeri yang menunjukkan fenomena purnama tujuh persen lebih besar dan sekitar 14-15 persen lebih terang dari purnama biasa.

Sedangkan kata strawberry itu diambil dari penanggalan kuno para petani di daratan Benua Amerika.

"Katanya memang purnama yang jatuh pada minggu kedua bulan Juni adalah saat mereka panen stroberi. Makanya mereka menyebutnya sebagai strawberry supermoon," tutur penceramah astronomi dari Planetarium dan Observatorium Jakarta Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki itu.

Acara Piknik Malam itu sebagai upaya mengedukasi sekaligus berdiskusi bersama masyarakat tentang isitlah fenomena astronomi yang terjadi di dunia.

Planetarium dan Observatorium Jakarta Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki berkolaborasi dengan Taman Impian Jaya Ancol menggelar kegiatan tersebut.

"Tentu saja kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengenalkan astronomi kepada masyarakat, khususnya masyarakat Jakarta. Dan tentunya setiap tahun banyak sekali fenomena astronomis yang menarik untuk kami kenalkan kepada masyarakat," ucap Raihan.

Selama revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta Pusat, maka Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) memindahkan lokasi edukasi tersebut ke Taman Impian Jaya Ancol, agar masyarakat tetap dapat mempelajari istilah dan fenomena kejadian di langit.

Ada enam teleskop yang disiapkan POJ untuk memfasilitasi keingintahuan publik malam itu, satu teleskop untuk kebutuhan tayangan langsung (live streaming) di Youtube, dua teleskop lagi dapat digunakan bebas oleh peserta Piknik Malam yang ada di Taman Impian Jaya Ancol.

Tiga teleskop lagi disimpan sebagai cadangan untuk peserta di lokasi apabila jumlahnya membeludak.

Melalui teleskop, bulan yang terlihat dengan mata telanjang itu kecil, akan terlihat lebih besar 40 sampai 50 kali setelah diamati dengan lensa.

Malam itu, bulan terlihat bulat penuh besar dan permukaannya terlihat jelas melalui teleskop. (*)



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Astronom Planetarium Jakarta jelaskan istilah "strawberry supermoon"
 

Pewarta : Abdu Faisal
Editor : Mukhlisun
Copyright © ANTARA 2024