Jakarta, (Antara) - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan untuk meningkatkan daya saing destinasi pariwisata, Indonesia masih memerlukan tata cara pengelolaan destinasi secara terpadu melalui Destination Management Organization (DMO).
"Mengapa perlu DMO? Ini untuk meningkatkan daya saing destinasi di Indonesia," kata Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Lokot Ahmad Enda di Jakarta, Rabu, dalam acara Konsinyering dalam rangka Peningkatan Kualitas Pengelolaan Destinasi Pariwisata Melalui Program DMO.
DMO merupakan tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis yang mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik melalui pemanfaatan jejaring, informasi, dan teknologi yang terpimpin secara terpadu.
Konsep itu juga melibatkan peran serta masyarakat, pelaku/asosiasi, industri, akademisi, dan pemerintah yang memiliki tujuan, proses, dan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan, volume kunjungan wisata, lama tinggal, dan besaran pengeluaran wisatawan serta manfaat bagi masyarakat lokal.
Ia mengatakan, sampai saat ini Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya manajemen destinasi pariwisata.
"Selain itu kita juga masih menghadapi kompleksitas karakter kepariwisataan baik itu multisektor, multidisiplin, dan multistakeholder," katanya.
Terlebih, kata dia, pariwisata bersifat lintas batas atau tidak mengenal batas administratif.
Di samping itu, pariwisata melibatkan elemen-elemen yang saling berhubungan satu sama lain sehingga perlu sistem pengelolaan destinasi.
"Dalam hal ini target pencapaian DMO harus didasarkan pada target ekonomi, lingkungan, sosial budaya, dan kualitas pengelolaan destinasi," katanya.
Ia menambahkan, DMO harus diterapkan dengan strategi koordinasi, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, kemitraan, kepentingan dan tujuan bersama, serta memiliki indikator dan kinerja.
DMO pada dasarnya, kata dia, bertujuan untuk meningkatkan kualitas destinasi dan jumlah kunjungan wisatawan melalui pengelolaan destinasi pariwisata yang berkelanjutan.
"Dengan begitu kondisi destinasi kita pada masa depan menjadi lebih baik," katanya.
Ia mencontohkan destinasi bisa meningkat menjadi berskala internasional bila telah memenuhi indikator di antaranya dikenal secara internasional, dikunjungan wisman, memiliki akses internasional (fisik/nonfisik), dan memenuhi standar internasional dari sisi kebersihan hingga kenyamanan. (*/sun)