Kurs Dolar naik tipis setelah pembicaraan paket stimulus AS masih buntu
Rabu, 12 Agustus 2020 7:40 WIB
Dolar AS naik (Ant)
New York, (ANTARA) - Dolar naik tipis sementara euro menyerahkan keuntungan awal pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), dalam perdagangan bergelombang, karena selera risiko memburuk setelah seorang pejabat tinggi Senat AS mengatakan negosiasi di Kongres mengenai paket stimulus tambahan untuk pandemi virus belum berkembang.
Tempat berlindung aman lainnya seperti yen dan franc Swiss juga menarik beberapa tawaran, ketika mereka memotong kerugian terhadap dolar.
Pemimpin Senat AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan negosiator Gedung Putih belum berbicara pada Selasa (11/8/2020) dengan para pemimpin Demokrat di Kongres tentang undang-undang bantuan virus corona setelah pembicaraan macet minggu lalu.
Saham-saham Wall Street berbalik lebih rendah setelah pernyataan McConnell, sementara harga-harga obligasi negara AS mengurangi kerugian.
“Kita akan terjebak di sini sebentar. Dan itu masalah besar," kata Marc Chandler, kepala strategi pasar, di Bannockburn Forex di New York, mengomentari kebuntuan tersebut.
“Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak akan memotong cek $600? Tanpa itu berarti kita kehilangan pendapatan dan kita kehilangan konsumsi,” tambahnya.
Dalam perdagangan sore hari, indeks dolar naik 0,1 persen menjadi 93,709, mencapai level tertinggi satu minggu di awal sesi.
Euro merosot menjadi 1,1733 dolar. Mata uang tunggal sebelumnya mencapai tertinggi sesi di atas 1,18 dolar setelah survei sentimen ekonomi ZEW naik menjadi 71,5 dari 59,3 bulan sebelumnya, jauh melebihi perkiraan untuk 58,0 dalam jajak pendapat ekonom Reuters.
Dolar mencapai level tertinggi tiga minggu terhadap yen di 106,68 karena imbal hasil obligasi negara AS 10-tahun naik ke puncak empat minggu. Dolar terakhir di 106,53 yen, naik 0,5 persen.
Para analis mengatakan dolar akan tetap didukung sebagai tempat berlindung yang aman untuk saat ini di tengah kebuntuan atas stimulus fiskal serta meningkatnya ketegangan AS-China.
China menjatuhkan sanksi pada 11 warga AS, termasuk anggota parlemen Republik, menyusul sanksi Washington terhadap para pejabat Hong Kong dan China.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan perusahaan-perusahaan dari China dan negara lain yang tidak mematuhi standar akuntansi akan dihapus dari pencatatan di bursa AS pada akhir 2021.
Respons pasar terhadap konflik AS-China terbatas, tetapi analis mengatakan mungkin ada implikasi jangka panjang.
Dolar Australia dan Selandia Baru membalikkan kenaikan terhadap greenback. Sterling juga menyerah terhadap dolar, jatuh 0,2 persen menjadi 1,3041 dolar. Sebelumnya pound naik setelah Deputi Gubernur Bank of England Dave Ramsden mengatakan bank sentral akan meningkatkan pelonggaran kuantitatif jika ekonomi Inggris kesulitan lagi. (*)
Tempat berlindung aman lainnya seperti yen dan franc Swiss juga menarik beberapa tawaran, ketika mereka memotong kerugian terhadap dolar.
Pemimpin Senat AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan negosiator Gedung Putih belum berbicara pada Selasa (11/8/2020) dengan para pemimpin Demokrat di Kongres tentang undang-undang bantuan virus corona setelah pembicaraan macet minggu lalu.
Saham-saham Wall Street berbalik lebih rendah setelah pernyataan McConnell, sementara harga-harga obligasi negara AS mengurangi kerugian.
“Kita akan terjebak di sini sebentar. Dan itu masalah besar," kata Marc Chandler, kepala strategi pasar, di Bannockburn Forex di New York, mengomentari kebuntuan tersebut.
“Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak akan memotong cek $600? Tanpa itu berarti kita kehilangan pendapatan dan kita kehilangan konsumsi,” tambahnya.
Dalam perdagangan sore hari, indeks dolar naik 0,1 persen menjadi 93,709, mencapai level tertinggi satu minggu di awal sesi.
Euro merosot menjadi 1,1733 dolar. Mata uang tunggal sebelumnya mencapai tertinggi sesi di atas 1,18 dolar setelah survei sentimen ekonomi ZEW naik menjadi 71,5 dari 59,3 bulan sebelumnya, jauh melebihi perkiraan untuk 58,0 dalam jajak pendapat ekonom Reuters.
Dolar mencapai level tertinggi tiga minggu terhadap yen di 106,68 karena imbal hasil obligasi negara AS 10-tahun naik ke puncak empat minggu. Dolar terakhir di 106,53 yen, naik 0,5 persen.
Para analis mengatakan dolar akan tetap didukung sebagai tempat berlindung yang aman untuk saat ini di tengah kebuntuan atas stimulus fiskal serta meningkatnya ketegangan AS-China.
China menjatuhkan sanksi pada 11 warga AS, termasuk anggota parlemen Republik, menyusul sanksi Washington terhadap para pejabat Hong Kong dan China.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan perusahaan-perusahaan dari China dan negara lain yang tidak mematuhi standar akuntansi akan dihapus dari pencatatan di bursa AS pada akhir 2021.
Respons pasar terhadap konflik AS-China terbatas, tetapi analis mengatakan mungkin ada implikasi jangka panjang.
Dolar Australia dan Selandia Baru membalikkan kenaikan terhadap greenback. Sterling juga menyerah terhadap dolar, jatuh 0,2 persen menjadi 1,3041 dolar. Sebelumnya pound naik setelah Deputi Gubernur Bank of England Dave Ramsden mengatakan bank sentral akan meningkatkan pelonggaran kuantitatif jika ekonomi Inggris kesulitan lagi. (*)
Pewarta : Apep Suhendar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (09/02/2026) hari ini, simak daftarnya
09 February 2026 9:06 WIB
Minggu (08/02/2026) hari ini, Harga emas UBS Rp2,972 juta per gr, Galeri24 Rp2,958 juta per gr
08 February 2026 9:00 WIB
Sabtu (07/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,961 juta/gr dan Galeri24 Rp2,946 juta/gr
07 February 2026 8:53 WIB