Nicholas Saputra Jaga kesehatan mental selama pandemi COVID-19
Kamis, 23 Juli 2020 13:32 WIB
Duta Unicef untuk Indonesia Nicholas Saputra. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Jakarta (ANTARA) - Duta Unicef untuk Indonesia Nicholas Saputra mengingatkan semua pihak terutama anak-anak di Tanah Air agar tetap menjaga dan memerhatikan kesehatan mental selama pandemi COVID-19.
"Jangan abaikan perasaanmu terutama jika kamu merasa tidak nyaman," kata dia melalui rekaman video yang dipantau di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan pandemi COVID-19 telah mempengaruhi masyarakat dalam banyak hal. Sebagai contoh, tidak bisa ke sekolah, harus tetap di rumah, jatuh sakit, bahkan melihat langsung orang tua yang diputus hubungan kerjanya (PHK).
Akibatnya, ujar dia, banyak masyarakat yang tidak berdaya dan menjadi khawatir, sedih, kecewa bahkan marah. Perasaan demikian cukup wajar karena efek pandemi yang belum juga berakhir.
Sebagai duta Unicef, Nicholas mengajak semua orang terutama anak-anak Indonesia tetap melakukan kegiatan rutin di antaranya mengerjakan tugas sekolah, olahraga termasuk aktivitas yang disukai dan dikerjakan di rumah.
"Kita akan merasa lebih baik jika kita berkomunikasi dengan orang yang kita cintai," katanya.
Selain itu, membantu teman mengerjakan pekerjaan rumah secara daring juga dapat menjaga kesehatan mental termasuk pula membatu orang tua.
Apabila ada individu yang betul-betul merasa sedih, takut dan khawatir sehingga mengganggu aktivitas bahkan timbul keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka sebaiknya minta pertolongan pada orang yang dipercayai.
Misalnya kepada kawan baik, saudara, orang tua atau tenaga kesehatan. Apabila butuh layanan konsultasi maka bisa menghubungi layanan sejiwa di nomor 119 ekstensi 8 atau hubungi pelayanan sosial anak di 1500771.*
"Jangan abaikan perasaanmu terutama jika kamu merasa tidak nyaman," kata dia melalui rekaman video yang dipantau di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan pandemi COVID-19 telah mempengaruhi masyarakat dalam banyak hal. Sebagai contoh, tidak bisa ke sekolah, harus tetap di rumah, jatuh sakit, bahkan melihat langsung orang tua yang diputus hubungan kerjanya (PHK).
Akibatnya, ujar dia, banyak masyarakat yang tidak berdaya dan menjadi khawatir, sedih, kecewa bahkan marah. Perasaan demikian cukup wajar karena efek pandemi yang belum juga berakhir.
Sebagai duta Unicef, Nicholas mengajak semua orang terutama anak-anak Indonesia tetap melakukan kegiatan rutin di antaranya mengerjakan tugas sekolah, olahraga termasuk aktivitas yang disukai dan dikerjakan di rumah.
"Kita akan merasa lebih baik jika kita berkomunikasi dengan orang yang kita cintai," katanya.
Selain itu, membantu teman mengerjakan pekerjaan rumah secara daring juga dapat menjaga kesehatan mental termasuk pula membatu orang tua.
Apabila ada individu yang betul-betul merasa sedih, takut dan khawatir sehingga mengganggu aktivitas bahkan timbul keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka sebaiknya minta pertolongan pada orang yang dipercayai.
Misalnya kepada kawan baik, saudara, orang tua atau tenaga kesehatan. Apabila butuh layanan konsultasi maka bisa menghubungi layanan sejiwa di nomor 119 ekstensi 8 atau hubungi pelayanan sosial anak di 1500771.*
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UNICEF: tragis dan mengenaskan ada bayi meninggal kedinginan di Gaza
01 January 2025 10:51 WIB, 2025
ADB-UNICEF komitmen bantu anak dan kaum muda Indonesia dalam perangi COVID-19
14 April 2020 10:46 WIB, 2020
Kepastian anak dapatkan hak kesehatan penting saat pandemi, menurut UNICEF
11 April 2020 13:50 WIB, 2020
UNICEF: Jutaan anak tak dapat vaksin campak akibatkan wabah penyakit di dunia
25 April 2019 9:19 WIB, 2019
UNICEF siap bantu pemulihan psikologis korban gempa dan tsunami Sulteng
05 October 2018 11:58 WIB, 2018