Jakarta (ANTARA) - Para tetua adat dari berbagai wilayah di Kalimantan berkumpul dan bertemu dalam upacara adat Mesiwah Pare Gumboh di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, 26-28 Juli.

"Ritual ini adalah wujud rasa syukur kami, masyarakat Dayak Liyu pada Sang Pencipta atas hasil panen yang kami peroleh," kata Demang/Tetua Adat Dayak Liyu, Juhri Atak (74), dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Suku Dayak yang mendiami pedalaman di Kabupaten Balangan memiliki beragam tradisi mensyukuri berkah alam dan mendoakan lelulur mereka. Di antara tradisi atau aruh itu adalah Aruh Batimbuk, Aruh Baharin, Aruh Puja Mea, Aruh Balian, Aruh Buntang, Mesiwah Pare Gumboh dan sebagainya.

Adapun ritual Mesiwah Pare Gumboh masyarakat Dayak akan menyerahkan hasil panen yang masih mentah kepada tetua adat yang disebut dengan Nyerah Ngemonta.

Masyarakat dayak yang memiliki hasil panen meminta pada tetua adat/pelaksana ritual agar memohonkan restu dam rasa syukur pada Sang Pencipta atas hasil perolehan panen yang melimpah.

Perayaan itu dilakukan dengan ritual Besoyokng dan Mengudang dengan tetua adat/pelaku ritual meminta restu dan mengucap rasa syukur pada Sang Pencipta atas hasil panen yang diperoleh dan diakhiri dengan mandi bara api.

Selain masyarakat adat Liyu, biasanya ritual juga dihadiri para tetua adat Dayak dari wilayah lain di sekitar pegunungan meratus.

Ketua Panitia Mesiwah Pare Gumboh Budiyanto (40) mengatakan ritual tersebut dihadiri sejumlah peneliti, dosen dan wisatawan dari berbagai wilayah di Indonesia.

"Kami kedatangan sekitar 40 orang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Banjarmasin dan Yogyakarta yang tertarik melihat dan menyaksikan ritual Mesiwah Pare," kata Budi.

Dia mengatakan Mesiwah Pare Gumboh akan diselenggarakan setiap tahun. Acara diselenggarakan Komunitas Dayak Liyu secara mandiri. Panitia berharap ke depan pemerintah dapat mendukung inisiatif komunitas tersebut untuk kemajuan kebudayaan Indonesia.

Perwakilan Yayasan Umar Kayam Yogyakarta, Kusen Alipa Hadi (43), mengatakan upacara itu unik dan langka tetapi terbuka untuk dihadiri oleh masyarakat dari suku lain. Upaya itu bermakna besar bagi pemajuan kebudayaan di Indonesia.

"Saya membayangkan, ritual-ritual semacam ini semakin banyak dan terbuka untuk dihadiri oleh suku-suku lain di Indonesia, bukan hanya sebagai pertunjukan semata tetapi juga bagian dari merawat kebhinekaan kita di Nusantara," kata dia. (*)

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor : Mukhlisun
Copyright © ANTARA 2024