Target serapan beras lokal Bulog Sumbar naik 500 ton
Kamis, 3 Januari 2019 10:39 WIB
Kepala Bulog Divre Sumbar Suharto Djabar. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)
Padang, (Antaranews Sumbar) - Target serapan beras lokal Badan Urusan Logistik (Bulog) Sumatera Barat pada 2019 naik 500 ton menjadi 10.500 ton dari sebelumnya 10.000 ton pada 2018.
"Kita optimis tercapai karena serapan beras lokal pada 2018 mencapai 10.900 ton atau melebihi target," kata Kepala Bulog Sumbar Suharto Djabar di Padang, Kamis.
Penyerapan terhadap beras lokal itu langsung dimulai sejak Januari 2019 karena masa panen di Sumbar terjadi hampir sepanjang tahun karena masa tanam yang tidak serentak. Namun masa panen yang relatif agak banyak kemungkinan sekitar Februari atau Maret 2019.
Suharto menyebut serapan beras paling banyak berasal dari daerah Pesisir Selatan karena harga yang cukup bersaing sehingga sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Sementara beras di daerah lain relatif mahal, terutama untuk daerah Solok yang terkenal sebagai penghasil beras premium di Sumbar.
Hingga saat ini serapan beras lokal tertinggi di daerah itu terjadi pada 2018 dengan realisasi 109 persen. Sebelumnya pada 2017 serapan beras Bulog Sumbar hanya sekitar 8000 ton.
Beras lokal yang diserap tersebut menjadi bagian dari stok beras Bulog Divre Sumbar yang sewaktu-waktu bisa disalurkan ke masyarakat untuk menjaga stabilitas harga.
Selain beras lokal, stok beras juga berasal dari beras nasional serta beras impor dari Vietnam dan Thailand.
Suharto menyebut pada operasi pasar awal 2019, stok beras lokal dan nasional itu ikut disalurkan bersama beras impor dengan persentase 50:50.
Beras kualitas medium dilepas dengan harga Rp8.600 per kilogram dan premium Rp9.600 per kilogram. (*)
"Kita optimis tercapai karena serapan beras lokal pada 2018 mencapai 10.900 ton atau melebihi target," kata Kepala Bulog Sumbar Suharto Djabar di Padang, Kamis.
Penyerapan terhadap beras lokal itu langsung dimulai sejak Januari 2019 karena masa panen di Sumbar terjadi hampir sepanjang tahun karena masa tanam yang tidak serentak. Namun masa panen yang relatif agak banyak kemungkinan sekitar Februari atau Maret 2019.
Suharto menyebut serapan beras paling banyak berasal dari daerah Pesisir Selatan karena harga yang cukup bersaing sehingga sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Sementara beras di daerah lain relatif mahal, terutama untuk daerah Solok yang terkenal sebagai penghasil beras premium di Sumbar.
Hingga saat ini serapan beras lokal tertinggi di daerah itu terjadi pada 2018 dengan realisasi 109 persen. Sebelumnya pada 2017 serapan beras Bulog Sumbar hanya sekitar 8000 ton.
Beras lokal yang diserap tersebut menjadi bagian dari stok beras Bulog Divre Sumbar yang sewaktu-waktu bisa disalurkan ke masyarakat untuk menjaga stabilitas harga.
Selain beras lokal, stok beras juga berasal dari beras nasional serta beras impor dari Vietnam dan Thailand.
Suharto menyebut pada operasi pasar awal 2019, stok beras lokal dan nasional itu ikut disalurkan bersama beras impor dengan persentase 50:50.
Beras kualitas medium dilepas dengan harga Rp8.600 per kilogram dan premium Rp9.600 per kilogram. (*)
Pewarta : Miko Elfisha
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Berdayakan pelaku usaha lokal, Pemkot Padang berkomitmen gunakan produk dalam negeri
12 February 2026 15:01 WIB
Pemkot Pariaman latih pelaku UMKM produksi kue-minuman kekinian berbasis lokal
10 February 2026 18:40 WIB
KSOP: Pembangunan sisi darat Pelabuhan Teluk Tapang Air Bangis berdayakan tenaga kerja lokal
06 February 2026 4:39 WIB
40 Ribu Pekerja Lokal Dilibatkan Kementerian PU Pulihkan Infrastruktur Sumatera
31 January 2026 12:04 WIB
Wako Fadly Amran : ORARI punya peran penting percepat koordinasi saat bencana
18 January 2026 11:22 WIB