Nilai rupiah masih terlalu murah, kata BI
Rabu, 2 Januari 2019 15:46 WIB
Lembaran mata uang Rupiah. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)
Jakarta, (Antaranews Sumbar) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga Rabu siang ini masih terlalu murah (undervalued) namun dalam beberapa waktu ke depan, Bank Sentral menegaskan potensi penguatan kurs terbuka lebar.
Hingga Rabu siang pukul 14.00 WIB, nilai rupiah diperdagangkan sebesar Rp14.465 untuk satu dolar AS di pasar spot, atau melemah 19 poin dibanding saat pembukaan pasar Rabu pagi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu, mengatakan meski masih terlalu murah, ruang penguatan untuk mata uang Garuda cukup terbuka, terutama karena berkuranganya potensi dana keluar setelah sinyalemen Bank Sentral AS Federal Reserve yang "memotong" perkiraan frekuensi kenaikan suku bunganya tahun ini.
Di akhir 2018, BI memperkirakan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya menjadi hanya dua kali dari perkiraan sebelumnya sebanyak tiga kali.
Selain itu, sebagai otoritas moneter, Perry berjanji akan mengoptimalkan langkah stabilisasi pasar tahun ini dengan berbagai instrumen seperti intervensi yang terukur, barter valas (swap), maupun Domestik-NDF (DNDF).
"Dua faktor lainnya untuk penguatan rupiah adalah kredibilitas kebijakan yang ditempuh oleh BI, maupun pemerintah, dan defisit transaksi berjalan yang lebih rendah," kata Perry.
Di 2019, BI mengklaim optimistis bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia akan menurun menjadi 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dari kisaran tiga persen PDB di 2018.
Sepanjang 2018, ketika tekanan eksternal sedang tinggi menerpa pasar keuangan Indonesia, rupiah terdepresiasi 5,9 persen, dengan tingkat volatilitas delapan persen. (*)
Hingga Rabu siang pukul 14.00 WIB, nilai rupiah diperdagangkan sebesar Rp14.465 untuk satu dolar AS di pasar spot, atau melemah 19 poin dibanding saat pembukaan pasar Rabu pagi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu, mengatakan meski masih terlalu murah, ruang penguatan untuk mata uang Garuda cukup terbuka, terutama karena berkuranganya potensi dana keluar setelah sinyalemen Bank Sentral AS Federal Reserve yang "memotong" perkiraan frekuensi kenaikan suku bunganya tahun ini.
Di akhir 2018, BI memperkirakan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya menjadi hanya dua kali dari perkiraan sebelumnya sebanyak tiga kali.
Selain itu, sebagai otoritas moneter, Perry berjanji akan mengoptimalkan langkah stabilisasi pasar tahun ini dengan berbagai instrumen seperti intervensi yang terukur, barter valas (swap), maupun Domestik-NDF (DNDF).
"Dua faktor lainnya untuk penguatan rupiah adalah kredibilitas kebijakan yang ditempuh oleh BI, maupun pemerintah, dan defisit transaksi berjalan yang lebih rendah," kata Perry.
Di 2019, BI mengklaim optimistis bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia akan menurun menjadi 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dari kisaran tiga persen PDB di 2018.
Sepanjang 2018, ketika tekanan eksternal sedang tinggi menerpa pasar keuangan Indonesia, rupiah terdepresiasi 5,9 persen, dengan tingkat volatilitas delapan persen. (*)
Pewarta : Indra Arief Pribadi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wako Pariaman nilai Galaksi Fourpa Cup 2026 bentuk karakter positif generasi muda
30 April 2026 12:32 WIB
Hadiri pelantikan, Pj Sekda Padang : LAKAM Padang punya peran strategis jaga nilai adat budaya
25 April 2026 14:34 WIB
Bundo Kanduang Solok studi tiru ke Pariaman terkait penguatan nilai adat pada Catin
22 April 2026 17:15 WIB
Kunjungi rumah contoh, BNPB nilai Sepablock cocok untuk Huntap Berkelanjutan
22 April 2026 17:02 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Jumat (08/05/2026) pagi, emas Antam turun tipis Rp1.000 jadi Rp2,839 juta per gram
08 May 2026 9:43 WIB
Harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Jumat (08/05/2026) pagi ini fluktuatif
08 May 2026 7:40 WIB